“Bicara Ilmu Bertahan Hidup atau survival science tidak hanya sebatas cara bertahan hidup ketika tersesat di hutan. Dalam dunia sosial akademik, mahasiswa yang beradaptasi dengan lingkungan pergaulan kampus, yang (mungkin) jauh berbeda dengan lingkungan tempat asalnya juga sepertinya bisa kita kategorikan sebagai suatu ilmu bertahan hidup, yang tujuannya tentu untuk dapat bertahan di lingkungan dan sukses kuliahnya”.
Dalam dunia akademik, mahasiswa pendatang biasanya memiliki tantangan berupa interaksi sosial di tanah rantau. Hambatan budaya, yang berkorelasi dengan gaya dan cara berkomunikasi, jika tidak ditangani dengan baik dapat berdampak pada proses sosial hingga nilai akademik mereka di kampus.
Salah satu contoh menarik yang bisa kita jadikan studi kasus dari pernyataan tersebut yakni mahasiswa yang berasal dari Timur Indonesia yang banyak berkuliah di Pulau Jawa. Kita ambil contoh untuk tulisan ini spesifik di Malang, Jawa Timur.
Kota dengan banyak pilihan destinasi tujuan menempuh pendidikan tinggi ini juga menyimpan tantangan bagi mahasiswa Timur Indonesia (seperti asal Papua, Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Maluku, Maluku Utara dan sekitarnya) ketika melanjutkan studi di sana.
Kejutan budaya (shock culture) jadi hal utama yang perlu direspon dengan cara beradaptasi yang tepat di lingkungan yang baru.
Pada umumnya shock culture ini terjadi ketika menghadapi dinamika sosial dan budaya yang kompleks. Perubahan budaya dari lingkungan sebelumnya ke lingkungan baru menuntut kemampuan untuk menegosiasikan identitas, nilai, dan cara berkomunikasi. Dalam konteks komunikasi antarbudaya, fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori Negosiasi Identitas (Identity Negotiation Theory) yang dikembangkan oleh Stella Ting-Toomey (1993, 2005). Teori ini menekankan bahwa dalam interaksi lintas budaya, individu berupaya mempertahankan identitas kulturalnya sembari beradaptasi dengan lingkungan baru. Negosiasi budaya bukan sekadar pertukaran simbol atau kebiasaan, tetapi juga proses pembentukan makna dan penerimaan sosial yang mempengaruhi keberhasilan integrasi dan pembelajaran mahasiswa.
Berangkat dari teori tersebut, maka menjadi menarik melihat upaya mahasiswa dari timur Indonesia yang berupaya menegosiasikan identitas, nilai dan cara berkomunikasinya untuk bertahan di lingkungan yang baru, demi memperoleh kenyamanan, kemudahan/kelancaran selama berkuliah. Sekiranya 3 tips berikut juga bisa digunakan untuk mempermudah proses adaptasi ini:
1. Kenali dan Sesuaikan Gaya Bicara. Mengenali dan menyesuaikan gaya bicara bagi seorang pendatang memang gampang-gampang susah, mengingat gaya dan cara bicara itu melekat, namun daerah satu dengan lainnya biasanya akan berbeda. Hal ini juga berlaku bagi mahasiswa dari timur Indonesia yang memiliki gaya bicara yang berbeda dengan gaya bicara keseharian di Jawa. Rata-rata mereka yang berasal dari timur Indonesia bernada bicara tinggi, suara keras. Diksi terkadang menggunakan kata yang disingkat sebagaimana kebiasaan berbicara di sana. Sementara di Jawa (dalam hal ini Malang), gaya bicara relatif lebih pelan dan tempo lebih lambat. Memang tidak ada keharusan menyesuaikan gaya bicara apalagi penyesuaian dan mengenali gaya bicara tentu memerlukan waktu. Di beberapa kasus, mereka yang mencoba menyesuaikan dialek lokal masih sesekali terbawa gaya bicara asalnya, namun apabila terus diasah, mereka yang berhasil akan mampu mengubah dialek bicaranya menjadi sama persis dengan dialek tempat tinggalnya kini. Sungguh menarik sekali.
2. Menyesuaikan Kebiasaan dan Toleransi. Di mana bumi dipjak, di situ langit dijunjung. Peribahasa ini selayaknya berlaku bagi kita yang baru datang, menetap di tempat atau lingkungan baru. Kebiasaan asal yang sekiranya tidak sesuai dengan norma ataupun keseharian masyarakat setempat sebaiknya tidak dilakukan. Sebagai contoh kebiasaan berkumpul/begadang sampai larut malam yang diisi dengan berbincang atau bernyanyi sebaiknya tidak dilakukan. Ada batas waktu bergaul dan bersosialisasi, terutama jika tinggal di tengah area pemukiman penduduk. Kita tidak bisa membuat kumpulan keramaian terlalu malam/ pagi dan terlalu sering.
3. Bersosialisasi dan Menjalin Kedekatan dengan Warga Lokal. Langkah ini jadi salah satu cara bertahan hidup paling jitu yang dapat dilakukan mahasiswa di perantauan. Tidak hanya sebatas menjalin pertemanan semata, melainkan menjalin hubungan khusus dengan teman kuliah atau warga asli setempat/warga lokal. Menjalin hubungan dekat tidak hanya akan memberikan banyak pengetahuan/kebiasaan, tapi juga jaminan keamanan dan ketenangan batin selama menjalankan studi di perantauan. Kombinasi pasangan mahasiswa dari timur dengan mahasiswa asal jatim ini menarik. Yang berasal dari Jawa biasanya akan berwatak lebih halus, lembut namun karakter jawa timurnya akan terlihat dari ceplas ceplos jujur kalimat ucapannya. Sedangkan mahasiswa dari timur akan menunjukkan karakter lebih straight to the point, namun pandai merayu dan mengambil hati, Ini akan menjadikan mereka pasangan yang menarik.
Dan pada akhirnya, menutup tulisan ini, setidaknya kesimpulan yang bisa kita cermati dari tantangan budaya mahasiswa pendatang (dalam hal ini yang berasal dari timur Indonesia) berkuliah di Jawa adalah faktor adaptasi sosial dan budaya sangat berperan penting menentukan kesuksesan mahasiswa menuntut ilmu di tanah rantau. Kedua factor ini juga menentukan sejauh mana mahasiswa bisa cepat atau tidak dalam berinteraksi sosial.
Faktor selanjutnya toleransi juga menjadi penentu, terutama toleransi yang berkaitan dengan penerimaan mahasiswa di tengah masyarakat. Dibeberapa kasus, minimnya toleransi budaya oleh mahasiswa pendatang menghadirkan gesekan dengan masyarakat setempat. Tujuan menuntut ilmu justru terabaikan dengan penolakan publik.
Padahal kisah tentang mahasiswa asal timur Indonesia berprestasi bukanlah cerita baru. Seperti yang ditorehkan Kwart Felisha Pitornela Wainggai dari Papua dan Henrikus Williams Ko’o dari Kupang NTT yang berhasil meraih beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik) dari Kementerian Pendidikan, Budaya, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada 2023 lalu. Sebelumnya kedua mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) juga mengaku sempat mengalami masa transisi yang sulit di awal perkuliahan terutama dalam hal cuaca, bahasa, budaya dan kualitas pendidikan. Namun berkat dukungan sosial, proses adaptasi menjadi lebih mudah, dan pada akhirnya mereka bisa menjawab tantangan menjadi peluang.
Cerita sukses juga datang dari Muhammad Rijal Akbar Yelipele (Ijal), seorang mahasiswa yang juga dikenal sebagai stand up comedy asal Wamena Papua, yang karena kemampuan adaptasinya yang baik berhasil hingga fasih berbicara sunda. Kemampuan ini diakuinya didapat dari pengaruh lingkungan yang membiasakan dirinya berbicara dengan bahasa sunda. Bahkan dari bahasa yang dikuasainya ini, Ijal Papua (begitu biasa dia disapa) meraih ketenaran di masyarakat.










