HARNAS.CO.ID – Progam Every Purchase is Cheap (EPIC) Sale kembali digelar oleh Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo). Dalam penyenggaraan EPIC Sale kali ini, Aprindo turut menggandeng pasar tradisional dengan tujuan mewujudkan pertumbuhan ekonomi lebih inklusif yang tak hanya terfokus pada toko swalayan.
“Sehingga memastikan nadi perdagangan di pasar rakyat tetap bergerak, berputar, dan naik kelas,” kata Ketua Umum DPP Aprindo Solihin di Pasar Mayestik, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel), Selasa, (2/12/2025).
Dia menjelaskan, pelibatan pasar tradisional ke dalam EPIC Sale 2025 yang berlangsung sejak Senin (1/12/2025) hingga Kamis (4/1/2026) itu ditandai dukungan penuh dan kolaborasi dengan pemangku kepentingan terkait seperti Perumda Pasar Jaya dan Asosiasi Pengelola Pasar Indonesia (Asparindo). Selain itu, Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (Appsi), Koperasi Pedagang Pasar (Koppas), dan Induk Koperasi Pedagang Pasar (Inkoppas).
“Mengingat masyarakat Indonesia berinteraksi paling dekat dengan pasar rakyat sebagai pusat transaksi harian,” ujar Solihin.
Gelaran EPIC Sale antara lain menghadirkan diskon atau potongan harga terkait kebutuhan pokok serta pasar murah. Event jelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) ini melibatkan 153 pasar tradisional yang dikelola Perumda Pasar Jaya, lebih dari 13 ribu pasar rakyat, 11 juta pedagang, dan ratusan perusahaan.
Adapun soal target, Solihin menyebut,
EPIC Sale 2025 diharapkan bisa mencetak transaksi hingga Rp56 Triliun. Ia optimistis target ini bisa terpenuhi berkaca dari penyelenggaraan program serupa pada tahun lalu dan dilibatkannya pasar tradisional.
“Tahun lalu, kami punya target Rp14,5 triliun, pencapaiannya Rp14,9 triliun dalam waktu dua minggu,” katanya.
Sementara, Direktur Ritel dan Perkulakan Perumda Pasar Jaya, Sumanto menyambut baik dilibatkannya pasar tradisional dalam EPIC Sale 2025. Hal ini dinilai turut menjadi momentum bagi pihak Pasar Jaya untuk terus berbenah. Sumanto menyebut, salah satunya menyangkut penggunaan QRIS atau standardisasi nasional untuk pembayaran digital menggunakan kode pembayaran QR di Indonesia.
“Pasar jaya harus berbenah diri agar lebih efisien terkait penggunaan QRIS,” ujarnya.
Selain itu, kata Sumanto menambahkan, aspek kenyamanan pasar tradisional yang perlu ditingkatkan.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal (Dirjen) Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Iqbal S. Shofwan menyatakan, penyelenggaraan EPIC Sale harus dikaitkan dengan konsumsi rumah tangga. Terlebih, kata Iqbal lagi, EPIC Sale 2025 kini melibatkan pasar tradisional.
“Dulu Aprindo hanya fokus ritel modern. Tahun ini merangkul pedagang pasar rakyat, sehingga kontribusi real yang diinisiasi Aprindo guna dukung konsumsi domestik kita,” ujar Iqbal.










