HARNAS.CO.ID – Indonesia menorehkan lima capaian penting pada bidang pendidikan, pengetahuan, dan budaya dalam Sidang Umum ke-43 United Nation Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) di Samarkand, Uzbekistan, yang berlangsung 30 Oktober-13 November 2025.
Capaian itu antara lain terkait Bahasa Indonesia digunakan sebagai salah satu bahasa resmi UNESCO.
Pantun nasional pembuka dan penutup yang disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Abdul Mu’ti, dalam Bahasa Indonesia pun turut menyambut peserta sidang dengan meriah.
Diketahui, pada rangkaian sidang tersebut, Indonesia terpilih menjadi salah satu anggota komite MOST atau Manajemen Transformasi Sosial UNESCO.
Program tersebut fokus pada penguatan ilmu-ilmu sosial dalam merumuskan kebijakan publik, menjembatani penelitian akademik dengan pengambil keputusan di tingkat pemerintah.
“Keanggotaan Indonesia di Dewan MOST memperkuat posisi kita sebagai negara yang tidak hanya kaya secara budaya, tetapi juga secara serius mengembangkan kebijakan berbasis pengetahuan ilmiah,” kata Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Prancis, Andorra, Monako, dan merangkap Delegasi Tetap R
Indonesia untuk UNESCO, Mohamad Oemar dalam keterangannya, Sabtu (15/11/2025).
Lebih lanjut, pada ranah sains kelautan, Indonesia terpilih sebagai anggota Dewan Eksekutif Komite Oseonografi Antarpemerintah (IOC) UNESCO.
Keberhasilan ini semakin mengukuhkan peran penting Indonesia sebagai negara maritim dalam pengetahuan dan tata kelola kelautan.
Sidang Umum juga mengukuhkan peringatan 400 tahun kelahiran Syekh Yusuf Al-Makassari di tahun 2027, sebagai salah satu perayaan yang dikaitkan dengan UNESCO. Syekh Yusuf Al-Makassari, ulama dan sufi besar asal Sulawesi Selatan, dikenal luas bukan hanya sebagai tokoh spiritual, tetapi juga sebagai pejuang antikolonial dan jembatan peradaban antara Indonesia dan Afrika Selatan.
Atas usulan Indonesia, UNESCO juga mengadopsi resolusi yang memperingati Idul Fitri dan Idul Adha sebagai hari besar di lingkungan UNESCO. Dengan resolusi ini, UNESCO tidak akan mengadakan pertemuan resmi pada Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.
Secara keseluruhan, lima capaian penting dalam sidang UNESCO dinilai mewakili kontribusi wajah Indonesia di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, serta komunikasi dan budaya yang beririsan dengan mandat inti salah satu badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut.
Selain itu, keberhasilan itu juga menunjukkan diplomasi Indonesia tidak sekedar menjadi pengikut agenda di UNESCO, tetapi juga membentuk narasi, berkontribusi membentuk norma global, dan menghubungkan kepentingan nasional dengan kepentingan global.










