HARNAS.CO.ID – Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menyiapkan safe house atau rumah aman bagi ratusan warga negara Indonesia (WNI) di Bangladesh. Langkah ini dilakukan menyusul situasi dan kondisi keamanan terkini di Bangladesh yang membara seiring demonstrasi dan kerusuhan melanda negara itu.
“Safe house bisa diakses WNI jika situasi memburuk,” kata Direktur Perlindungan WNI dan Bantuan Hukum Indonesia (BHI) Kemlu RI Judha Nugraha, Selasa (6/8/2024).
Dia menjelaskan, jumlah WNI di Bangladesh yang tercatat dalam sistem lapor diri sebanyak 577 orang. Mayoritas adalah WNI yang menikah dengan warga negara Bangladesh.
Lebih jauh, ujar Judha, Kedutaan Besar RI di Dhaka, Bangladesh sudah meningkatkan status kedaduratan dari Siaga III menjadi Siaga II.
“Para WNI diimbau di Bangladesh untuk meningkatkan kewaspadaan, mengurangi aktivitas luar rumah untuk hal-hal non-esensial, serta menghindari kerumunan massa dan lokasi demonstrasi,” katanya.
Selain itu, para WNI juga diharapkan dapat terus menjaga komunikasi dan mengikuti langkah-langkah kontingensi yang ditetapkan KBRI Dhaka.
“Dalam kondisi darurat, segera laporkan kondisi kepada otoritas keamanan setempat dan hotline KBRI Dhaka. Hotline KBRI Dhaka (+880) 1614444552 dan Direktorat Pelindungan WNI Kemlu: (+62) 812 9007 0027,” kata Judha.
Diketahui, demonstrasi dan kerusuhan pecah di Bangladesh dalam beberapa waktu terakhir dan mengakibatkan banyak korban luka dan jiwa berjatuhan dari pengunjuk rasa dan aparat keamanan. Unjuk rasa dan kerusuhan ini terjadi di Ibu Kota Bangladesh, Dhaka dan beberapa kota lainnya.
Peristiwa berdarah tersebut awalnya dipicu aksi protes mahasiswa sejak Juli 2024 terkait kuota pekerjaan sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di pemerintahan Bangladesh.
Demonstran menuntut diakhirinya pola kuota yang mengalokasikan 30 persen posisi di pemerintahan untuk anggota keluarga veteran perang tahun 1971. Tuntutan kemudian juga mencakup pergantian pemerintahan seiring memburuknya kondisi ekonomi di negara yang di antaranya berbatasan dengan India dan Myanmar itu.
Terkini, demonstrasi dan kerusuhan di Bangladesh dikabarkan sudah mengakibatkan ratusan korban tewas. Sementara, Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina dilaporkan meninggalkan Bangladesh menuju India. Panglima Militer Bangladesh Jenderal Waker-Uz-Zaman lalu mengumumkan pemerintahan transisi di negara tersebut.
Penulis: Aria Triyudha










