HARNAS.CO.ID – Panitia 40 Tahun SAR Universitas Hasanuddin (Unhas) menggelar Seminar Nasional Kebencanaan yang dirangkaikan dengan peluncuran buku “Rumah Jingga Tamalanrea, Cikal Bakal SAR Mahasiswa: 40 Tahun SAR Unhas”. Acara yang berlangsung di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta, Senin (21/9/2026) ini, sekaligus memperingati 40 tahun pengabdian SAR Unhas.
Seminar mengangkat tema “Antisipasi Kebencanaan Aktual dan Partisipasi Publik dan Komunitas”. Ketua Panitia A Gener Wakulu dalam sambutannya menyatakan, berbagai pengalaman bencana besar di Indonesia menunjukkan bahwa kesiapsiagaan dan penanganan yang tepat dapat membantu meminimalkan korban jiwa.
“Karena itu, peningkatan literasi kebencanaan, sistem peringatan dini, kesiapsiagaan masyarakat, serta kolaborasi berbagai pihak menjadi bagian penting dalam membangun ketangguhan menghadapi bencana,” kata Gener Wakulu, yang juga Editor Buku “Rumah Jingga Tamalanrea”.
Indonesia, lanjut Gegen, sapaan akrab Gener Wakulu, merupakan negara yang memiliki tingkat kerawanan bencana yang tinggi. Letaknya di garis khatulistiwa, jalur Ring of Fire, serta pertemuan tiga lempeng tektonik utama, membuat Indonesia menghadapi berbagai potensi bencana, mulai dari gempa bumi, erupsi gunung berapi, banjir, tanah longsor hingga cuaca ekstrem.
Seminar ini, tuturnya, secara khusus mendorong kolaborasi antara pemerintah, akademisi, relawan, komunitas, dunia usaha, dan masyarakat untuk memperkuat ekosistem penanggulangan bencana yang responsif, adaptif, dan berkelanjutan.
“Melalui kegiatan ini, panitia 40 Tahun SAR Unhas mengajak berbagai elemen masyarakat, khususnya relawan, akademisi, pemerintah, komunitas, dunia usaha, pemuda, dan media, untuk bersama-sama memperkuat ketangguhan bangsa dalam menghadapi risiko bencana,” katanya.
Pada acara ini, sejumlah narasumber yang berkaitan dengan tema juga dihadirkan. Mulai dari pihak Unhas, Perpustakaan Nasional, Anggota DPR, Basarnas, BMKG, BNPB, Mapala Universitas Indonesia, dan undangan lainnya.
Masing-masing dari mereka memaparkan materi terkait kebencanaan. Adapun Sekretaris Utama Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP) Dr. Abdul Haris Achadi, S.H.,Dess, sebagai Keynote Speaker.
Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP) Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M membahas: “Efektivitas Early Warning System dalam Mengantisipasi bencana Khususnya pada Kebakaran Hutan dan Lahan.”
Kepala BMKG Prof. Ir. Teuku Fausal Fathani, Ph.D., IPU membahas: “Ancaman Bencana Hidrometeorologi dan Cuaca Ekstrem di Indonesia dan Lesson Learnt Kejadian Banjir Bandang di Nepal.” Peneliti Utama BRIN Dr. Ir. Agustan, M.Sc membahas: “Bencana Gempa Bumi di Indonesia Membaca dan Interpretasi Kejadian Gempa Skala Besar Beruntun di Beberapa Negara Belakangan Ini.”
Sementara itu, pada sesi dua, yakni Sinergi dan Partisipasi Aktif Relawan dalam Ekosistem Kebencanaan, Deputi Bidang Bina Tenaga dan Potensi Pencarian dan Pertolongan, Moh. Barokna Haulah, S.S. membahas: “Integrasi Peran Relawan dalam Manajemen Operasi SAR.”.
Selain itu, Badan Pengurus Mapala UI membahas: “Mahasiswa dan Tanggung Jawab Sosial dalam Menghadapi Kebencanaan.” Adapula Dewan Pengurus Wanadri membahas: “Inisiasi Standar Kompetensi Pemuda dan Masyarakat dalam Menghadapi Bencana,” serta Direktur Masmindo Dwi Area membahas: “Partisipasi Dunia Usaha dalam Gagasan Desa Tahan Bencana.”
Penerbit Buku “Rumah Jingga Tamalanrea” Umar Arsal berharap, seminar ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap potensi bencana, memperkuat kesiapsiagaan publik dan relawan. Selain itu bisa membedah strategi mitigasi dan penanganan darurat berbasis kearifan lokal dan teknologi modern.
“Saya juga berharap kegiatan ini menjadi ruang berbagi pengalaman dari berbagai pihak mengenai kesiapsiagaan menghadapi bencana, sekaligus mendiskusikan potensi dan peran relawan dalam penanggulangan bencana,” ujar Umar.
Rangkaian kegiatan ini ditutup dengan peluncuran buku perjalanan 40 tahun pengabdian SAR Unhas. Buku yang berjudul “Rumah Jingga Tamalanrea, Cikal Bakal SAR Mahasiswa: 40 Tahun SAR Unhas” ini diharapkan menjadi dokumentasi sejarah sekaligus bahan pembelajaran bagi generasi muda dan relawan di masa mendatang










