HARNAS.CO.ID – Partai Keadilan Sejahtera (PKS) turut buka suara soal adanya pelaporan terhadap komika Pandji Pragiwaksono ke kepolisian buntut materi stand up comedy yang ditampilkan melalui acara Mens Rea.
Menurut Sekretaris Jenderal PKS Muhammad Kholid, semua pihak sepatutnya melihat persoalan ini secara jernih dan proporsional. Ia memandang, kritik yang disampaikan Pandji dalam acara Mens Rea merupakan bagian dari dinamika demokrasi yang wajar di ruang publik.
“Kritik itu seperti vitamin bagi demokrasi. Terkadang rasanya pahit, tidak selalu menyenangkan, tetapi justru dibutuhkan agar demokrasi tetap sehat dan tidak kehilangan arah,” kata Kholid dikutip, Minggu (11/1/2026).
Dia menjelaskan, dalam masyarakat demokratis, komedi, satire, dan ekspresi artistik memiliki fungsi sosial yang penting. Ekspresi semacam ini bukan ancaman, melainkan bagian dari mekanisme sosial untuk menyampaikan gagasan, refleksi, dan kritik, selama tidak mengandung ujaran kebencian, fitnah, atau ajakan kekerasan.
“Komedi pada dasarnya adalah seni untuk membuat orang tertawa. Namun lebih dari itu, komedi juga membantu mencairkan suasana kebatinan publik, menjaga kesehatan mental masyarakat, serta membuka ruang dialog yang lebih rileks di tengah tekanan kehidupan sehari-hari,” ujar
Anggota DPR RI Dapil Kota Depok dan Kota Bekasi itu.
Soal adanya laporan dari elemen masyarakat, Kholid pun menekankan pentingnya kehati-hatian dalam menyikapi ekspresi kritik di ruang publik. Setiap proses yang berjalan diharapkan tetap memperhatikan prinsip proporsionalitas, keadilan, serta penghormatan terhadap hak-hak konstitusional warga negara.
Tujuannya, agar tidak menimbulkan salah tafsir maupun kegaduhan yang tidak perlu.
Kholid menyebut, partai tempatnya bernaung menegaskan komitmen untuk terus menjaga kebebasan berekspresi, memperluas ruang dialog yang sehat, serta merawat demokrasi konstitusional yang dewasa dan berkeadaban sebagai bagian dari kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Indonesia yang kuat adalah Indonesia yang mampu tersenyum, berdialog, dan belajar dari kritik bukan Indonesia yang mudah tersinggung dan tergesa-gesa mempersoalkan perbedaan pendapat,” kata Kholid menambahkan.
Sebagai informasi, pandangan mengenai pentingnya kritik dalam demokrasi juga pernah disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto dalam Perayaan Natal Bersama 2025 pada Selasa (6/1/2026).
Presiden Prabowo mempersilakan masyarakat menyampaikan kritik, dengan catatan kritik tersebut tidak berubah menjadi fitnah.
“Jadi yang harus kita waspadai sekarang, kalau kritik malah kita harus bersyukur. Kalau saya dikoreksi, saya menganggap saya dibantu, saya diamankan. Kadang-kadang kita tidak suka dikritik, tidak suka dikoreksi, padahal itu mengamankan,” ujar Prabowo.










