Harnas.CO.ID
  • Home
  • Politik
  • Kesra
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Global
  • Nusantara
  • Lifestyle
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Advertorial
No Result
View All Result
Harnas.CO.ID
No Result
View All Result
Home Hukum

Tuntutan LPEI Petro Energy, Hukum Pidana tidak Boleh Mendahului Hukum Perdata yang Masih Berjalan

Waldus, menegaskan bahwa tim akan menyampaikan pembelaan secara menyeluruh dalam pledoi

by Fadlan Butho
18/11/2025
Tuntutan LPEI Petro Energy, Hukum Pidana tidak Boleh Mendahului Hukum Perdata yang Masih Berjalan
Share on FacebookShare on TwitterWhatsapp

HARNAS.CO.ID – Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat kembali menggelar sidang lanjutan perkara dugaan korupsi pembiayaan ekspor Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) dengan agenda pembacaan tuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Perkara ini menyeret tiga petinggi PT Petro Energy, yakni Newin Nugroho (Direktur Utama), Susy Mira Dewi Sugiarta (Direktur Keuangan), serta Jimmy Masrin (Presiden Direktur PT Caturkarsa Megatunggal sekaligus Komisaris Utama PT Petro Energy).

Dalam paparannya, JPU menyampaikan sejumlah poin, antara lain bahwa pertama, ketiga terdakwa merupakan subjek hukum yang cakap, normal, dan dapat dimintai pertanggungjawaban pidana.

Kedua, JPU menyatakan meyakini para terdakwa telah terbukti melakukan tindak pidana korupsi, sebagaimana dakwaan. Ketiga, untuk terdakwa Jimmy Masrin, JPU juga menuntut pidana tambahan berupa denda.

Penasihat Hukum Terdakwa 3 Jimmy Masrin (JM), Waldus Situmorang, menilai tuntutan JPU memunculkan kekeliruan konstruksi hukum yang berpotensi misleading. Menurut Waldus, JPU menafsirkan pembayaran kewajiban Petro Energy kepada LPEI sebagai tindakan pengembalian uang tindak pidana korupsi, padahal kedua istilah tersebut sangat berbeda di dalam hukum pidana.

“Dalam hukum, pengembalian sebagaimana dimaksud Pasal 4 UU Tipikor hanya terjadi bila seseorang telah dinyatakan menerima uang hasil tindak pidana, lalu mengembalikannya ke rekening negara. Tetapi yang terjadi dalam perkara ini adalah pembayaran kewajiban kontraktual, bukan pengembalian uang korupsi,” ujar Waldus.

Waldus menjelaskan bahwa skema pembayaran antara Petro Energy dengan LPEI sudah berjalan jauh sebelum perkara pidana ini bergulir. Untuk fasilitas USD 10 juta, pembayaran telah dilakukan sejak
2021–2022, dan kini tinggal tersisa sekitar USD 500 ribu.

Seluruh bunga dibayar, tanpa tunggakan sedangkan, untuk fasilitas USD 50 juta, sesuai perjanjian, pembayaran dimulai pada 2024 dan sudah dilakukan tujuh kali, dengan jatuh tempo hingga 2028, namun untuk pembayaran bunga sudah dibayarkan sejak tahun 2021.

Dengan demikian, Waldus menilai tidak logis apabila pembayaran utang komersial yang dilakukan sesuai perjanjian perdata dianggap sebagai pengembalian dana hasil korupsi.

“Kalau ini dianggap pengembalian, seolah-olah uang tersebut adalah milik negara dan harus masuk ke rekening negara. Padahal yang terjadi adalah pembayaran utang kepada LPEI sesuai perjanjian yang masuk ke rekening milik LPEI,” tegasnya.

Dalam tuntutannya, JPU juga menyebut terdakwa 3 Jimmy Masrin (JM) sebagai pihak yang “berbelit-belit”. Kuasa hukum menilai penilaian tersebut keliru dan tidak mencerminkan fakta di persidangan.

Sebagai komisaris, JM tidak terlibat dalam operasional harian Petro Energy. Peran tersebut berada di tangan direksi, khususnya Direktur Utama Newin Nugroho (NN).

Karena itu, menurut Waldus, sikap Jimmy yang minim bicara justru konsisten dengan fungsi jabatannya.

“Penilaian bahwa terdakwa berbelit-belit tidak berdasar. Beliau jarang bicara justru karena tidak menjalankan fungsi operasional,” jelas Waldus.

Tim Penasihat Hukum Siapkan Pledoi, Tegaskan Ini Sengketa Perdata yang
Sedang Berjalan

Menanggapi pertanyaan mengenai arah pembelaan di tahap berikutnya, Waldus, menegaskan bahwa tim akan menyampaikan pembelaan secara menyeluruh dalam pledoi.

Ia menekankan kembali bahwa seluruh pembayaran telah dilakukan sesuai termin dan perjanjian, yang merupakan kesepakatan sah antara Petro Energy dan LPEI.

“Pertama, uang sudah dibayar secara termin sesuai perjanjian. Ini hubungan perdata yang sah dan mengikat kedua pihak, pacta sunt servanda, sebagaimana Pasal 1320 jo. 1338 KUHPerdata. Pembayaran itu lalu dialirkan ke PT Caturkarsa Megatunggal dan PT Pada Idi sesuai rangkaian perjanjian lanjutan. Semua itu bagian dari mekanisme restrukturisasi yang berjalan legal. Pertanyaannya, mengapa
hubungan perdata yang masih berjalan dan tidak wanprestasi ini justru dicampuri hukum publik?” ujar Waldus.

Waldus menegaskan, hukum pidana tidak semestinya masuk ketika sengketa perdata belum selesai, kecuali terjadi ingkar janji.

Karena pembayaran berjalan lancar, ia menilai konstruksi tuntutan JPU perlu dikoreksi. “Tema pembelaan kami sederhana: ini adalah pembayaran utang yang sah, bukan tindak pidana,” tutup Waldus.

Previous Post

Danantara Didesak Setop Proyek PLTSa, Berpotensi Bebani Keuangan Negara Ratusan Triliun

Next Post

Sidang Korupsi Pertamina, Penyewaan Kapal VLCC Justru Buat Negara Hemat US$ 4,3 Juta

Related Posts

Fakta Sidang Bos Blueray Cargo, KPK Tindaklanjuti Dirjen Bea Cukai Terima S$ 213.600
Hukum

Fakta Sidang Bos Blueray Cargo, KPK Tindaklanjuti Dirjen Bea Cukai Terima S$ 213.600

Begini Respons Menteri Hadi Tjahjanto soal Mafia Tanah di Kotabaru
Hukum

Dituntut 5 Tahun Penjara, Immanuel Ebenezer Alias Noel Harus Bayar Uang Pengganti Rp 1,435 Miliar

Begini Respons Menteri Hadi Tjahjanto soal Mafia Tanah di Kotabaru
Hukum

Serahkan Amicus Curiae, Tian Bahtiar Didukung Perwakilan Pers dan Masyarakat Sipil

Begini Respons Menteri Hadi Tjahjanto soal Mafia Tanah di Kotabaru
Hukum

Korupsi Investasi TaniHub: Dana Ratusan Miliar Mengalir ke Kantong Pribadi 

Leave Comment

Terkini

Komunitas Honda Big BOS Jelajahi 3 Negara, Menempuh 3.770 Kilometer, dan Merajut Persaudaraan di Pulau Borneo

Komunitas Honda Big BOS Jelajahi 3 Negara, Menempuh 3.770 Kilometer, dan Merajut Persaudaraan di Pulau Borneo

IUP Dibekukan, PT MKU Gugat Praperadilan PT BBDM

IUP Dibekukan, PT MKU Gugat Praperadilan PT BBDM

IAW Sebut Ada Dugaan Aliran Dana Rp 91 Miliar dalam Kasus Suap DJBC

IAW Sebut Ada Dugaan Aliran Dana Rp 91 Miliar dalam Kasus Suap DJBC

Langsung Ditahan, Kejagung Tetapkan Vendor Motor Listrik SPPG Tersangka Korupsi MBG

Langsung Ditahan, Kejagung Tetapkan Vendor Motor Listrik SPPG Tersangka Korupsi MBG

DKPP Catat 5.894 Aduan dan Pecat 815 Penyelenggara Pemilu dalam 14 Tahun

DKPP Catat 5.894 Aduan dan Pecat 815 Penyelenggara Pemilu dalam 14 Tahun

Terpopuler

  • Iwan Bomba Ditengarai Menjadi Pihak di Balik Kriminalisasi Istri Mendiang Ferry Mursyiddan

    Iwan Bomba Ditengarai Menjadi Pihak di Balik Kriminalisasi Istri Mendiang Ferry Mursyiddan

    143 shares
    Share 57 Tweet 36
  • Diduga Cemari Nama Baik Bupati Biak Numfor, GPAI Laporkan LMHKN-Joe Lawalata ke Mabes Polri

    91 shares
    Share 36 Tweet 23
  • Sebagai Wujud Syukur, PT Metal Smeltindo Selaras Berbagi di Bulan Ramadhan 2023

    53 shares
    Share 21 Tweet 13
  • LSM Pemantau Kinerja Pemerintah Tolak Penetapan PT Anugerah Bangun Kencana

    46 shares
    Share 18 Tweet 12
  • Kejari Jaksel Tetapkan Tiga Tersangka Korupsi Kredit Fiktif di Bank BRI

    44 shares
    Share 18 Tweet 11
Harnas.CO.ID

Mengulas isu terkini.

About Us

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak Kita

Kategori

  • Politik
  • Kesra
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Global
  • Nusantara
  • Lifestyle
  • Olahraga
  • Teknologi

Contact Us

Hubungi redaksi melalui email di bawah ini : harnas.co.id@gmail.com
Alamat :
JL. Mampang Prapatan Raya NO. 26,
Kel. Mampang Prapatan, Kec. Mampang Prapatan,
Kota Adm. Jakarta Selatan
Provinsi DKI Jakarta
Kode Pos 12790

© 2022 Harnas.CO.ID.

No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Kesra
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Global
  • Nusantara
  • Lifestyle
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Advertorial

© 2022 Harnas.CO.ID.