HARNAS.CO.ID – Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno L.P. Marsudi mengingatkan soal pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional seiring kekejaman dan ketidakadilan yang terjadi setiap hari di Palestina. Hal ini dikemukakan Retno saat Menlu ASEAN bertemu Uni Eropa di Vientiane, Laos.
“Penghormatan terhadap hukum internasional penting bagi ASEAN, dan penting juga untuk Uni Eropa,” kata Retno dalam keterangannya dikutip Sabtu (27/7/2024).
Retno turut mengingatkan agar penghormatan hukum internasional itu juga diterapkan di Ukraina yang juga tengah berkonflik dengan Rusia.
Lebih lanjut, Retno pun membahas soal dukungan terhadap Palestina. Ia menyampaikan, terdapat perkembangan positif dari negara-negara Uni Eropa.
“Negara-negara yang mengakui Palestina bertambah. Demikian juga dengan dukungan untuk UNRWA. Kita berharap negara-negara Uni Eropa lainnya akan mengikuti langkah baik ini,” kata Retno.
Terkait pengakuan untuk Palestina, sejumlah negara anggota Uni Eropa telah mengakui negara Palestina, antara lain Swedia, Siprus, Hungaria, Polandia, Slovakia, Romania, Bulgaria, Spanyol, Irlandia, dan Slovenia.
Selain isu perdamaian, pertemuan Menlu ASEAN dan Uni Eropa juga angkat mengenai isu ekonomi. Menlu RI Retno Marsudi mengemukakan kemitraan ASEAN dan Uni Eropa harus didasarkan pada prinsip kesetaraan, saling menguntungkan, dan memberi manfaat bagi rakyat kedua kawasan.
“Karena itu, Indonesia menentang kebijakan-kebijakan yang diskriminatif dan pendekatan yang ‘one-size-fits-all’ yang menghambat perdagangan,” tegas Retno.
Dia mendorong dialog dan kerja sama erat antara ASEAN dan Uni Eropa. Dialog ini penting untuk menumbuhkan rasa saling memahami dan menyelesaikan masalah-masalah secara konstruktif, antara lain melalui dialog melalui Joint Working Group on Vegetable Oil yang akan dilaksanakan tahun ini. Indonesia mendorong partisipasi aktif dari Uni Eropa untuk dialog tersebut.
Joint Working Group on Vegetable Oil adalah salah satu kerangka kerja sama ASEAN-Uni Eropa yang merupakan inisiatif Indonesia yang dibentuk pada tahun 2020 untuk memperjuangkan akses komoditi kelapa sawit dan minyak nabati. Hingga saat ini, forum tersebut telah dilaksanakan sebanyak tiga kali, terakhir pada 20-21 Juni 2023 yang dihadiri oleh negara anggota ASEAN dan juga Uni Eropa.
Penulis: Aria Triyudha









