HARNAS.CO.ID – Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI mengecam keras tindakan militer Israel mencegat sejumlah kapal yang tergabung dalam rombongan misi bantuan kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 di sekitar perairan Siprus, Mediterania Timur.
Imbas dari pencegatan terhadap misi yang akan membawa bantuan ke Jalur Gaza, Palestina ini adalah diculiknya sejumlah relawan asal Indonesia, termasuk di antaranya jurnalis Republika Bambang Noroyono.
Menurut Juru Bicara Kemlu RI Yvonne Mewengkang, sejauh ini, sedikitnya sepuluh kapal dikonfirmasi telah ditangkap, termasuk kapal Amanda, Barbaros, Josef, dan Blue Toys. “Berdasarkan informasi dari Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), di kapal Josef diinformasikan terdapat seorang Warga Negara Indonesia (WNI) atas nama Andi Angga Prasadewa yang merupakan delegasi dari GPCI – Rumah Zakat,” kata Yvonne.
Lebih lanjut, dia menjelaskan, terkait kapal yang membawa Jurnalis bernama Bambang Noroyono masih belum dapat dihubungi.
“Belum diketahui status dari kapal termasuk saudara Bambang Noroyono yang berada di kapal tersebut,” ujar Yvonne.
Ia menyebut, situasi di lapangan masih sangat dinamis dan kemungkinan perkembangan tetap perlu diantisipasi.
Kemlu RI, kata Yvonne, mendesak Pemerintah Israel untuk segera melepaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan internasional yang ditahan. Selain itu, Pemerintah Israel harus menjamin kelanjutan penyaluran bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestina sesuai hukum humaniter internasional
“Sejak awal Kemlu c.q Direktorat Perlindungan WNI telah berkoordinasi dengan KBRI Ankara, KBRI Kairo, dan KBRI Amman guna menyiapkan langkah antisipatif demi memastikan keselamatan dan percepatan proses pemulangan mereka,” ucap Yvonne.
Ia menyatakan, Kemlu RI juga terus menjalin komunikasi dengan berbagai pihak terkait untuk memperoleh informasi terkini mengenai kondisi para WNI, sekaligus menyiapkan langkah kontingensi.
“Termasuk fasilitasi pelindungan dan percepatan proses pemulangan apabila diperlukan. Pelindungan WNI akan terus menjadi prioritas utama Pemerintah Indonesia di tengah situasi yang berkembang sangat cepat,” kata Yvonne menambahkan.










