HARNAS.CO.ID – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengingatkan, penggunaan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan yang mulai digunakan untuk menjawab pertanyaan keagamaan harus dilatih dengan data akurat dan terpercaya. Hal itu dikemukakan Nezar seiring diluncurkannya platform AI Keislaman Aiman dan Aisha.
“Untuk Aiman dan Aisha ini, kalau data-datanya tidak di-training dengan baik, dapat memberikan hasil yang melenceng dari kaidah agama,” kata Nezar melalui keterangan tertulis dikutip Jumat (6/3/2026).
Dia menjelaskan, tanpa proses pelatihan data yang tepat, sistem AI berisiko menghasilkan jawaban bias dan menyesatkan, terutama pada isu sensitif seperti ajaran agama.
Lebih lanjut, Nezar mengapresiasi upaya dari pihak pengembang platform yang melakukan mitigasi risiko dengan mencegah AI menjawab pertanyaan yang sensitif dan kritis.
“Ini bagus, jadi sudah ada semacam penapis risiko untuk pertanyaan yang sensitif dan agak kritis, langsung dia akan menyarankan bertanya kepada Ustaz dan lain-lain,” ujar Nezar.
Dia berharap, platform Aiman dan Aisha dapat menjadi sebuah terobosan yang baik dalam pemanfaatan AI di bidang keagamaan.
“Semoga dengan pengembangan-pengembangan yang lebih intens, Aiman dan Aisha dapat menjadi lebih cerdas dan bisa menjawab banyak pertanyaan-pertanyaan kita,” kata Wamen Nezar menambahkan.
Sementara, Ketua Badan Pengurus Lazismu PP Muhammadiyah Ahmad Imam Mujaddid Rais menjelaskan, generasi Z dan milenial saat ini sering mencari jawaban masalah agama melalui mesin pencari di internet.
Meski begitu, sumber dan rujukan di internet sering kali tidak sepenuhnya benar dan akurat.
“Kehadiran Aiman dan Aisha memperkaya khazanah Islam di masyarakat untuk melahirkan pemahaman agama yang harmonis,” kata Ahmad.
Ia juga meminta platform untuk melengkapi data dengan berbagai rujukan kitab-kitab dan fatwa ulama.
“Agar dapat memberikan informasi-informasi yang lebih lengkap dan tepat bagi para penggunanya.”










