HARNAS.CO.ID – Pernyataan Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia yang menyatakan partai berlambang pohon beringin itu akan setia mendukung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka dipandang aneh dan dapat memunculkan polemik.
Menurut Pengamat Komunikasi Politik dari Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, dukungan Golkar tersebut diduga tak terlepas dari upaya mengakomodasi kepentingan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
“Kemungkinan itu besar terjadi karena faktor Bahlil, yang merupakan loyalis Jokowi,” kata Jamiluddin dikutip Senin (22/12/2025).
Dengan kata lain, dia menjelaskan, dukungan Golkar itu bisa jadi merupakan upaya Bahlil mengikat Prabowo agar tetap bersama Gibran.
“Apabila tetap diikat sejak awal, Prabowo diharapkan tidak punya pilihan lain selain memilih Gibran menjadi calon wakil presiden (cawapres) pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029,” ucap Jamiluddin.
Ia menyebut, apabila hal itu benar, maka dukungan Golkar kepada Prabowo-Gibran menjadi aneh. Sebab,pasangan Prabowo – Gibran dianggap relatif pincang.
“Prabowo tampak begitu mumpuni. Kapasitasnya sudah tak perlu diragukan lagi. Sementara Gibran, belum terlihat kapasitasnya meskipun sudah menjabat wakil presiden lebih satu tahun,” kata Jamiluddin.
Terlebih, sebagai partai besar seperti Golkar justru mengabaikan kader untuk maju pada Pilpres 2029.
“Padahal, banyak kader Golkar yang mumpuni. Bahkan kalau mau jujur, sumber daya manusia (SDM) Golkar termasuk yang terbaik diantara SDM partai lainnya, karena itu, terasa aneh bila Golkar lebih memilih kader lain untuk didukung,” ujar Jamiluddin.
Padahal, kata mantan Dekan FIKOM IISIP Jakarta ini mengingatkan, hakekat partai selalu mendahulukan kadernya untuk dimajukan menjadi presiden atau wakil presiden. Hal itu tidak terlihat pada Golkar yang sejak berdiri sudah menjadi partai besar.
Oleh karena itu, internal Partai Golkar sepatutnya menilai kembali dukungan tersebut. Setidaknya, Jamiluddin menyarankan, Golkar dapat memberi dukungan yang lebih rasional dengan tidak mengorbankan kadernya yang potensial untuk menjadi pemimpin.
“Golkar selayaknya kembali ke jati dirinya. Sebagai partai, Golkar harus mengedepankan kadernya untuk menjadi pemimpin nasional. Kalau tidak, berarti Golkar sudah gagal dalam kaderisasi,” kata Jamiluddin menambahkan.










