HARNAS.CO.ID – Warga yang bermukim di sekitar Refuse Derived Fuel (RDF) Plant Rorotan, Jakarta Utara, dikabarkan mengeluhkan embusan bau menyengat dari fasilitas pengolah sampah tersebut.
Namun, RDF Plant Rorotan kini dinyatakan
bebas dari bau dan asap serta memenuhi standar emisi Euro-6.
Hal itu diketahui setelah dilakukannya serangkaian perbaikan dan evaluasi teknis terhadap fasilitas pengolah sampah terbesar di dunia itu.
Dalam pandangan Ahli Teknik Lingkungan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Haryo Satriyo Tomo, RDF Plant Rorotan aman bagi lingkungan dan kesehatan warga.
“RDF Plant Rorotan telah dilengkapi Air Pollution Control Devices (APCD) dengan konfigurasi menyeluruh untuk mereduksi polutan secara optimal,” kata Haryo, dikutip dari laman resmi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Senin (10/11/2025).
Dia menjelaskan, sistem pengendalian pencemaran udara di RDF Rorotan menggunakan kombinasi unit penyaring canggih. Mulai dari Cyclone, Baghouse Filter, Wet Scrubber, Wet Electrostatic Precipitator (Wet ESP), hingga filter karbon aktif.
“Standar baku mutu yang digunakan merujuk pada Peraturan Menteri LHK Nomor 70 Tahun 2016, dan hasil uji emisi terakhir sudah memenuhi kriteria Euro-6,” ujar Haryo memaparkan.
Lebih lanjut, ia menyebut, proses pengeringan sampah menjadi RDF berlangsung dengan pembakaran sebagian produk RDF pada suhu 800–1.000°C.
Selanjutnya, gas panas yang dihasilkan lalu disaring secara berlapis sebelum dilepas melalui cerobong.
“Sistem berlapis ini menangkap partikulat, sulfur dioksida, oksida nitrogen, hingga gas penyebab bau. Jadi udara yang dilepaskan sudah aman,” ucap Haryo.
Terungkap pula, RDF Plant Rorotan kini mampu mengolah 2.500 ton sampah per hari menjadi 875 ton bahan bakar RDF. Olahan ini dijual ke pabrik semen seperti Indocement dengan harga USD24–44 per ton.
Tak hanya itu, cerobong pabrik juga tampak bersih tanpa asap. Kondisi ini menandakan sistem pengendalian emisi bekerja optimal.
Air Lindi Truk Sampah Picu Aroma tak Sedap
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung turut buka suara terkait keluhan aroma tak sedap yang berembus dari RDF Plant Rorotan, Jakarta Utara,
Pramobo mengatakan, sumber bau bukan berasal dari sistem RDF. Sebab, kata dia, RDF Plant Rorotan sudah bebas dari bau dan asap.
“Masalah bau yang sempat muncul ternyata berasal dari air lindi yang menetes dari truk pengangkut sampah,” ujar Pramono.
Untuk sementara waktu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menurunkan kapasitas RDF Rorotan dari 2.500 ton menjadi 1.000 ton per hari. Langkah ini ditempuh seraya menunggu kesiapan truk compactor baru yang mampu menahan air lindi agar tidak berceceran di area sekitar.
Diketahui, RDF Plant Rorotan disebut sebagai fasilitas pengolahan sampah terbesar dan terbaik di dunia dalam mengolah sampah basah menjadi bahan bakar alternatif.
Teknologi itu dikembangkan oleh Poltak Sitinjak, inventor yang telah mematenkan sistem RDF.
Poltak mengungkapkan, dari 2.500 ton sampah yang masuk, RDF Plant Rorotan mampu menghasilkan 875 ton RDF siap jual.
“Teknologi ini kami rancang agar efisien, ramah lingkungan, dan bernilai ekonomi,” ujar Poltak menambahkan.










