Harnas.CO.ID
  • Home
  • Politik
  • Kesra
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Global
  • Nusantara
  • Lifestyle
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Advertorial
No Result
View All Result
Harnas.CO.ID
No Result
View All Result
Home Ekonomi

Berisiko Boroskan Anggaran Negara, Alumni ITB Desak Presiden Prabowo Hentikan Lelang PLTSa

by Aria Triyudha
06/01/2026
Berisiko Boroskan Anggaran Negara, Alumni ITB Desak Presiden Prabowo Hentikan Lelang PLTSa

Ilustrasi gunung sampah. (Foto: esdm.go.id)

Share on FacebookShare on TwitterWhatsapp

HARNAS.CO.ID – Presiden Prabowo Subianto kembali didesak menghentikan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL/PLTSa).

Hal itu mengemuka melalui permintaan seorang alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) Ahmad Yani dalam Sarasehan Swasembada Energi yang diselenggarakan Ikatan Alumni (IA) ITB bersama Menteri Riset dan Teknologi/Kepala BRIN, CTO Danantara, serta Direksi PT PLN belum lama ini.

Secara terbuka dan tegas, Ahmad Yani meminta pemerintah menyetop proses lelang proyek PLTSa yang saat ini tengah berjalan melalui Danantara. Sebab, dia memandang, proses tersebut berpotensi menimbulkan pemborosan anggaran negara dalam skala besar dan membebani keuangan negara dan daerah dalam jangka panjang.

“Berdasarkan kajian teknis, ekonomi, dan kebijakan publik, teknologi PLTSa berbasis insinerasi yang dipaksakan saat ini sangat mahal, tidak efisien dengan karakteristik sampah Indonesia, dan berisiko membebani APBN serta APBD hingga belasan triliun rupiah setiap tahun,” kata Yani dalam sarasehan, dikutip Selasa (6/1/2026).

Yani menjelaskan, rencana pembangunan 33 fasilitas PSEL/PLTSa diprediksi membutuhkan investasi awal sekitar Rp100 triliun.

Padahal, merujuk Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025, pengelolaan sampah melalui pendekatan Pengurangan, Pemilahan, dan Pengolahan Material (PSE non-PLTSa) untuk cakupan nasional yang sama hanya memerlukan anggaran kurang dari Rp15 triliun.

Artinya, ujar Yani, ada potensi pemborosan lebih dari Rp80 triliun hanya pada tahap investasi awal.

“Belum termasuk subsidi harga beli listrik, jaminan pemerintah, serta kewajiban fiskal jangka panjang lainnya,” ucap dia menegaskan.

Lebih lanjut, Yani turut menyoroti skema Independent Power Producer (IPP) dalam proyek PLTSa.

Terungkap, untuk satu fasilitas dengan kapasitas 1.000 ton sampah per hari, dibutuhkan investasi sekitar Rp3 triliun, dengan produksi listrik sekitar 25 MW dan harga beli listrik oleh PLN mencapai ±20 sen dolar AS per kWh selama kontrak 30 tahun.

Menurut perhitungan Yani, skema itu berpeluang menciptakan kewajiban fiskal negara hingga kurang lebih Rp500 triliun selama masa kontrak.

“Skema tersebut jelas membebani keuangan negara, mengunci APBN dan APBD dalam kontrak jangka panjang, serta memindahkan risiko bisnis dari swasta kepada publik,” kata Yani.

Alternatif Pendekatan Lebih Murah 

Atas dasar itu, sebagai alternatif, Yani mendorong pemerintah mengedepankan pendekatan pemilahan dan pengolahan material yang dinilai lebih murah, cepat, serta berkelanjutan.

Pasalnya, pendekatan tersebut hanya memerlukan investasi nasional sekitar Rp15 triliun, dengan biaya operasional yang dapat ditutup dari nilai ekonomi hasil pemilahan, seperti Refuse Derived Fuel (RDF), plastik dan logam daur ulang, kompos, serta potensi carbon credit.

“Pendekatan ini tidak membutuhkan subsidi listrik dan tidak membebani APBN maupun APBD dalam jangka panjang. Implementasinya juga lebih cepat, sekitar satu tahun, dibandingkan PLTSa yang bisa memakan waktu dua tahun,” ujar Yani memaparkan.

Ia melanjutkan, model tersebut telah terbukti berhasil diterapkan berbagai kawasan, seperti BSD City dan kawasan industri. Termasuk, proyek ekonomi sirkular di dalam dan luar negeri.

Kemudian, Yani juga mengingatkan, berdasarkan peraturan terbaru terkait persampahan, beban pengelolaan sampah terintegrasi berpotensi ditanggung APBN dan pada akhirnya dibebankan kembali kepada APBD kabupaten/kota.

“Tanpa desain kebijakan yang matang, daerah akan menanggung biaya operasional tinggi, kehilangan ruang fiskal untuk pelayanan publik, dan terikat kontrak jangka panjang yang tidak fleksibel,” kata dia.

Pria yang dikenal sebagai aktivis pekerja dan pendukung Presiden Prabowo selama tiga kali pencalonan ini juga menilai anggaran puluhan hingga ratusan triliun rupiah untuk PLTSa jauh lebih bermanfaat jika dialihkan ke sektor yang langsung menyentuh kesejahteraan rakyat.

“Dana sebesar itu lebih tepat digunakan untuk penyediaan fasilitas kesehatan di kawasan hunian pekerja dan industri, peningkatan kualitas hidup buruh, serta penciptaan iklim investasi yang sehat, efisien, dan berkelanjutan,” ucap Yani menambahkan.

 

Previous Post

Pengacara Heran Dakwaan Kerry Riza Berubah

Next Post

Sidang Pertamina, Saksi Tegaskan Tak Ada Kongkalikong Pengadaan Kapal

Related Posts

Purbaya Didepak dari Kursi Menkeu, Dua Hal Ini Diduga Penyebabnya
Ekonomi

Purbaya Didepak dari Kursi Menkeu, Dua Hal Ini Diduga Penyebabnya

Wali Kota Jakarta Barat Ajak Warga Pilah Sampah dari Rumah
Nusantara

Wali Kota Jakarta Barat Ajak Warga Pilah Sampah dari Rumah

Dianggap Hina Presiden, Eks Ketua BEM UGM Tyo Ardianto Diadukan ke Bareskrim
Hukum

Dianggap Hina Presiden, Eks Ketua BEM UGM Tyo Ardianto Diadukan ke Bareskrim

Tangani Masalah Sampah, Pemerintah Kawal Percepatan Pembangunan PSEL
Teknologi

Tangani Masalah Sampah, Pemerintah Kawal Percepatan Pembangunan PSEL

Leave Comment

Terkini

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo Disorot Tajam, Jamiluddin Ritonga: Ada Klaim Kontradiksi!

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo Disorot Tajam, Jamiluddin Ritonga: Ada Klaim Kontradiksi!

Pemerintah Siapkan Tim untuk Evaluasi Penanganan Kenaikan Harga Cabai

Pemerintah Siapkan Tim untuk Evaluasi Penanganan Kenaikan Harga Cabai

Cak Imin Siap Bantu KPK Bongkar Korupsi di Kemenaker

Kedapatan Korupsi, KPK Tangkap Bupati Klaten

Duit Rp106,3 Miliar Jadi Petunjuk, KPK Dalami Orang Kepercayaan Nusron Wahid sebagai Markus

Dipanggil KPK Besok, KPK Peringatkan Nusron Wahid Hadiri Pemeriksaan

Korupsi Dana Bencana, KPK Tetapkan Adik Kepala BNPB dan 4 Lainnya Tersangka

Korupsi Dana Bencana, KPK Tetapkan Adik Kepala BNPB dan 4 Lainnya Tersangka

Terpopuler

  • Iwan Bomba Ditengarai Menjadi Pihak di Balik Kriminalisasi Istri Mendiang Ferry Mursyiddan

    Iwan Bomba Ditengarai Menjadi Pihak di Balik Kriminalisasi Istri Mendiang Ferry Mursyiddan

    149 shares
    Share 60 Tweet 37
  • Diduga Cemari Nama Baik Bupati Biak Numfor, GPAI Laporkan LMHKN-Joe Lawalata ke Mabes Polri

    92 shares
    Share 37 Tweet 23
  • Sebagai Wujud Syukur, PT Metal Smeltindo Selaras Berbagi di Bulan Ramadhan 2023

    55 shares
    Share 22 Tweet 14
  • Cari Aktor Lain di Proyek EDC BRI, KPK Dalami Peran Direktur Utama PT Integra Pratama

    51 shares
    Share 20 Tweet 13
  • LSM Pemantau Kinerja Pemerintah Tolak Penetapan PT Anugerah Bangun Kencana

    49 shares
    Share 20 Tweet 12
Harnas.CO.ID

Mengulas isu terkini.

About Us

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak Kita

Kategori

  • Politik
  • Kesra
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Global
  • Nusantara
  • Lifestyle
  • Olahraga
  • Teknologi

Contact Us

Hubungi redaksi melalui email di bawah ini : harnas.co.id@gmail.com
Alamat :
JL. Mampang Prapatan Raya NO. 26,
Kel. Mampang Prapatan, Kec. Mampang Prapatan,
Kota Adm. Jakarta Selatan
Provinsi DKI Jakarta
Kode Pos 12790

© 2022 Harnas.CO.ID.

No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Kesra
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Global
  • Nusantara
  • Lifestyle
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Advertorial

© 2022 Harnas.CO.ID.