HARNAS.CO.ID – Upaya KPK mengusut praktik korupsi terkait pengadaan mesin electronic data capture (EDC) di BRI pada 2020-2024, dipastikan tak berhenti. Penyidik masih mencari aktor lain yang ditengarai terlibat di balik pusaran korupsi di bank berplat merah ini.
Penyidik, Rabu (1/10/2025), menjadwalkan pemeriksaan terhadap Direktur Utama PT Integra Pratama AS (Andre Santoso). KPK berupaya menggali peran saksi AS dalam kaitan kasus tersebut.
Selain Andre Santoso, penyidik komisi antirasuah juga menggarap Direktur Digital & Teknologi Informasi (TI) PT BRI periode Maret 2017-Maret 2022 IU (Indra Utoyo) dan Direktur PT Inti Cipta Solusindo Yogi Septiadi. Mereka juga dimintai keterangan terkait dugaan korupsi pengadaan mesin EDC di Bank BRI.
“Pemeriksaan dilakukan di Gedung Merah Putih KPK,” kata Juru Bicara KPK Budi Prasetyo di Jakarta.
Jajaran BRI sebelumnya bergantian dimintai keterangan. Mereka yang pernah diperiksa di antaranya mantan Direktur Bisnis Konsumer BRI berinisial HAN dan Direktur BRI Life Aris Hartanto.
Kasus pengadaan ini diduga merugikan keuangan negara mencapai ratusan miliar rupiah. KPK pun telah mendalami mekanisme penyewaan mesin EDC oleh bank BRI.
Mekanisme yang didalami terkait pengaturan harga sewa yang mengakibatkan kerugian negara dalam pengadaan EDC. Termasuk pengaturan harga dari proses pengadaan yang kemudian diduga ada kerugian keuangan negara dalam proses pengadaan mesin EDC.
KPK menetapkan lima tersangka terkait dugaan korupsi pengadaan mesin EDC bank BRI ini.
Mereka adalah, mantan Wakil Direktur Utama BRI Catur Budi Harto (CBH), mantan Direktur Digital, Teknologi Informasi, dan Operasi BRI sekaligus mantan Dirut Allo Bank Indra Utoyo (IU), Dedi Sunardi (DS) selaku SEVP Manajemen Aktiva dan Pengadaan BRI, Elvizar (EL) selaku Dirut PT Pasifik Cipta Solusi, dan Rudy Suprayudi Kartadidjaja (RSK) selaku Dirut PT Bringin Inti Teknologi.
Dugaan korupsi dari dua pengadaan ini mencapai Rp 744 miliar. Dalam kasus ini, KPK mengungkap ada dua pengadaan yang dilakukan oleh lima tersangka.
Pertama, nilai pengadaan EDC BRIlink senilai Rp 942.794.220.000 dengan jumlah EDC 346.838 unit dari 2020-2024. Kedua, pengadaan FMS EDC 2021-2024 Rp 1.258.550.510.487 untuk kebutuhan Merchant sebanyak 200.067 unit.








