HARNAS.CO.ID – Langkah Rafi Prasetyo dan Ghufran Khadi Yasir dalam mengaplikasikan teori dan ilmu menyangkut manajemen yang diperoleh dari bangku kuliah patut menjadi inspirasi. Pasalnya, dua mahasiswa program studi (Prodi) Manajemen BINUS University ini berhasil membangun LEGHURA sebuah brand parfum yang kini dikenal dan diminati publik.
Sejatinya, kata Rafi dan Khadhi, awal perjalanan berwirausaha yang mereka jalani saat ini bermula dari keinginan mengembangkan pengalaman yang tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga melibatkan proses pengambilan keputusan, pengelolaan operasional, pemasaran, dan pemahaman terhadap kebutuhan konsumen.
Dari inisiatif tersebut, mereka kemudian mulai mengembangkan brand parfum LEGHURA.
“Kami memilih industri parfum sebagai bidang usaha dan mengembangkan konsep affordable luxury. Lewat konsep ini, kami ingin menawarkan parfum dengan harga terjangkau tanpa mengabaikan citra premium, estetika, dan pengalaman produk yang ingin kami hadirkan kepada konsumen,” kata Rafi, Selasa (3/11/2026).
Dia menjelaskan, keterjangkauan harga perlu didukung oleh identitas merek yang menarik agar produk memiliki nilai tersendiri di mata pasar.
Sejak awal, baik Rafi dan Khadi mengarahkan LEGHURA untuk menjangkau konsumen berusia sekitar 13–30 tahun, terutama pelajar, mahasiswa, dan pekerja muda. Kelompok ini menjadi sasaran pasar melalui penawaran parfum yang lebih mudah diakses. Karena itu, tidak hanya berfokus pada produk yang dijual, tetapi juga pada bagaimana membangun merek yang dapat dikenal dan dipertimbangkan oleh calon konsumen.
“Menjalankan LEGHURA bersama-sama membuat kami perlu mengelola berbagai aspek bisnis secara berkelanjutan. Kami harus memikirkan ketersediaan produk, identitas merek, marketplace penjualan, dan cara memperkenalkan produk kepada konsumen,” ujar Rafi lagi.
Proses tersebut menjadi awal perjalanan dalam mengubah sebuah inisiatif menjadi usaha yang beroperasi secara nyata.
Rafi mengungkapkan, setelah dirinya dan Khadi menentukan konsep bisnis, mereka lalu mulai mengembangkan aspek produk dan operasional LEGHURA. Dalam proses penyediaan produk, kedua pemuda ini bekerja sama dengan vendor agar dapat memperoleh produk parfum untuk dipasarkan. Pendekatan ini memungkinkan fokus pada pengelolaan bisnis, pemasaran, dan penjualan, sementara ketersediaan produk dan pengelolaan stok menjadi bagian penting dalam menjalankan usaha.
Rafi menyebut, ia dan Khadi juga menyadari bahwa produk yang tersedia belum tentu menarik perhatian konsumen apabila tidak disertai penyajian yang tepat. Oleh karena itu, foto produk disiapkan untuk mendukung aktivitas pemasaran dan penjualan digital. Selain itu, materi visual tersebut menjadi salah satu cara bagi calon konsumen untuk mengenal produk LEGHURA sebelum memutuskan membeli.
“Bagi kami, membangun merek parfum memiliki tantangan tersendiri. Konsumen yang berbelanja secara online tidak selalu dapat mencoba aroma secara langsung. Karena itu, penyampaian informasi produk, foto yang jelas, dan konten yang relevan menjadi bagian penting untuk membantu calon konsumen memahami produk yang ditawarkan,” tutur Rafi.
Lebih lanjut, konsep affordable luxury juga dipastikan tidak hanya menjadi sebuah istilah, tetapi tercermin dalam cara LEGHURA diperkenalkan kepada pasar. Identitas visual, komunikasi pemasaran, dan penyajian produk perlu dikembangkan secara konsisten agar merek ini memiliki karakter yang mudah dikenali.
Pemanfaatan Marketplace
Usai mempersiapkan produk dan materi visual, Rafi dan Khadi pun mulai memanfaatkan marketplace untuk memperluas jangkauan penjualan. Shopee menjadi salah satu kanal penjualan LEGHURA, kemudian mereka juga memanfaatkan TikTok Shop untuk menjangkau konsumen melalui perdagangan digital.
Marketplace memberikan kesempatan untuk memperkenalkan produk kepada calon konsumen tanpa terbatas pada interaksi secara langsung. Namun, Rafi dan Khadi memahami bahwa membuka toko daring saja tidak cukup. Produk harus dapat ditemukan, menarik perhatian, dan memberikan informasi yang membantu calon pembeli mempertimbangkan transaksi.
Untuk mendukung pemasaran, mereka mengembangkan konten melalui TikTok dan Shopee Video. Kanal tersebut dimanfaatkan sebagai media untuk memperkenalkan produk dan meningkatkan peluang agar LEGHURA dikenal oleh audiens yang lebih luas.
Dalam menjalankan strategi ini, Rafi dan Khadi belajar bahwa pemasaran digital bukan sekadar mengunggah konten. Sebab, aspek bagaimana produk ditampilkan juga perlu ditampilkan, apakah pesan yang disampaikan sesuai dengan identitas merek, dan apakah calon konsumen tertarik untuk melanjutkan ke halaman produk.
“Pemasaran digital menjadi salah satu aspek yang terus kami kembangkan. Kami ingin LEGHURA tidak hanya memiliki kanal penjualan, tetapi juga membangun pengenalan merek melalui komunikasi yang konsisten. Untuk itu, evaluasi aktivitas pemasaran dan data penjualan menjadi hal yang penting dalam menentukan langkah berikutnya,” kata Rafi.
Kenalkan Produk secara Langsung
Adapun Khadi mengungkapkan, selain memanfaatkan kanal digital, ia dan Rafi juga pernah membuka booth LEGHURA di lingkungan BINUS University. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk memperkenalkan produk secara langsung kepada pengunjung dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengenal LEGHURA lebih dekat.
Pemasaran melalui booth memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan penjualan melalui marketplace. Dalam interaksi langsung, calon konsumen dapat bertanya mengenai produk dan memperoleh penjelasan secara langsung. Apabila kesempatan untuk mencoba aroma tersedia, pengalaman tersebut juga dapat membantu mereka mengenali karakter parfum sebelum membeli.
Melalui kegiatan ini, mereka memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan calon konsumen dan mengamati tanggapan mereka terhadap produk.
“Bagi kami, interaksi langsung menjadi bagian penting dalam membangun bisnis karena membantu kami memahami pertanyaan, pertimbangan, dan kebutuhan calon pembeli. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pemasaran digital dan pemasaran langsung dapat saling melengkapi,” ujar Khadi.
Melalui media digital, Khadi menyebut, LEGHURA diperkenalkan secara daring. Sedangkan melalui booth, mereka dapat berinteraksi dengan konsumen secara langsung.
“Kami memandang kedua pendekatan tersebut sebagai bagian dari proses membangun merek. Dengan memanfaatkan berbagai kanal pemasaran, kami dapat terus mengevaluasi cara yang paling sesuai untuk memperkenalkan LEGHURA kepada target pasar,” ujar Khadi.
Pencapaian Penting
Salah satu pencapaian penting dalam perjalanan LEGHURA adalah penjualan sebanyak 1.000 pcs sejak pertengahan April 2026 hingga Oktober 2026, berdasarkan catatan perkembangan bisnis yang Khadi dan Rafi sampaikan.
Khadi mengatakan, pencapaian tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan usaha karena menunjukkan LEGHURA telah berkembang dari sebuah inisiatif menjadi bisnis yang menjalankan aktivitas penjualan secara nyata. Produk telah dipasarkan melalui kanal digital, didukung foto dan konten promosi, serta diperkenalkan secara langsung melalui booth di BINUS University.
Meskipun demikian, Khadi menyebut, dirinya dan Rafi memahami jumlah produk yang terjual belum cukup untuk menggambarkan seluruh kondisi bisnis. Pasalnya, aspek seperti omzet, biaya operasional, keuntungan, dan kontribusi masing-masing kanal penjualan juga harus diperhatikan agar dapat menilai perkembangan LEGHURA secara lebih menyeluruh.
“Pencapaian 1.000 pcs menjadi dasar bagi kami untuk mengevaluasi apa yang telah dilakukan dan menentukan bagian mana yang masih perlu diperbaiki. Kami ingin pengembangan LEGHURA tidak hanya berfokus pada peningkatan penjualan, tetapi juga pada penguatan fondasi bisnis agar pertumbuhannya dapat dikelola dengan lebih baik,” sebut Khadi.
Sejumlah Tantangan
Di balik perkembangan tersebut, Khadi dan Rafi mengakui masih menghadapi tantangan dalam membangun branding dan meningkatkan brand awareness. Sebagai merek yang sedang berkembang, LEGHURA perlu terus diperkenalkan agar semakin banyak konsumen mengenali nama, identitas, dan konsep produk yang kami tawarkan.
Keduanya menyadari bahwa memiliki produk dan kanal penjualan belum tentu membuat sebuah merek mudah diingat oleh konsumen. Di marketplace, calon pembeli dapat menemukan berbagai pilihan parfum dengan harga dan tampilan yang beragam. Oleh karena itu, mereka berkomitmen perlu membangun identitas LEGHURA secara konsisten agar merek ini memiliki karakter yang dapat dibedakan dari pilihan lainnya.
Menurut Khadi, tantangan tersebut mendorong dirinya dan Rafi memperhatikan penggunaan identitas visual, penyajian informasi produk, dan konten pemasaran.
“Kami ingin konsep affordable luxury dapat dipahami oleh konsumen melalui komunikasi yang jelas dan konsisten, bukan hanya melalui harga yang ditawarkan,” ujar Khadi.
Dalam konteks pemasaran, kesadaran merek merupakan salah satu aspek yang relevan karena konsumen perlu mengenali suatu merek sebelum mempertimbangkannya dalam keputusan pembelian. Literatur mengenai pemasaran digital dan keputusan pembelian dapat menjadi landasan untuk memahami aspek tersebut.
Namun, Khadi dan Rafi pun tak menampik, efektivitas strategi yang dijalankan tetap perlu dievaluasi menggunakan data bisnis LEGHURA sendiri.
Keduanya memandang penguatan branding sebagai proses jangka panjang. Konsistensi komunikasi, penyajian produk, dan pengalaman konsumen perlu terus diperhatikan agar LEGHURA dapat membangun identitas yang semakin kuat.
Selain branding, Khadi mengungkapkan, tantangan lain yang dihadapi adalah mengubah pengunjung marketplace menjadi pembeli. Mengingat, dia dan Rafi memahami seseorang yang melihat produk belum tentu langsung melakukan transaksi. Calon konsumen mungkin masih membandingkan harga, mencari informasi tambahan, membaca ulasan, atau mempertimbangkan apakah produk tersebut sesuai dengan kebutuhan mereka.
“Tantangan ini membuat kami perlu melihat pemasaran dari sudut pandang yang lebih luas. Jumlah pengunjung dan penayangan konten dapat membantu memperkenalkan produk, tetapi kami juga perlu memahami apakah perhatian tersebut berlanjut menjadi transaksi. Untuk itu, kami perlu mengevaluasi perjalanan konsumen mulai dari melihat konten, mengunjungi halaman produk, hingga menyelesaikan pembelian,” kata Khadi.
Data seperti kunjungan toko, interaksi dengan produk, penambahan ke keranjang, dan transaksi dapat membantu mengidentifikasi bagian yang membutuhkan perbaikan, apabila data tersebut tersedia.
“Kami juga perlu memastikan bahwa informasi produk disampaikan dengan jelas. Dalam bisnis parfum, deskripsi aroma, foto produk, dan konten video dapat membantu calon pembeli memperoleh gambaran mengenai produk sebelum melakukan transaksi,” tutur Khadi.
Ia menyatakan, tantangan tersebut menjadi pengingat bahwa strategi pemasaran tidak cukup hanya menarik perhatian. Karena, kepercayaan juga perlu dibangun seiring menyampaikan informasi relevan, dan membuat proses pembelian lebih mudah bagi konsumen.
Praktik Bisnis
Dengan menjalankan LEGHURA, Khadi menyadari, dirinya dan Rafi memberikan kesempatan untuk menerapkan pengetahuan manajemen ke dalam praktik bisnis. Mereka belajar pengelolaan usaha melibatkan berbagai aspek yang saling berkaitan. Mulai dari pengadaan produk melalui vendor, pengelolaan stok, pembangunan identitas merek, pembuatan konten pemasaran, hingga evaluasi penjualan.
Sebagai dua mahasiswa yang menjalankan bisnis bersama, mereka pun mengakui perlu memastikan berbagai kebutuhan usaha dapat dikelola secara berkelanjutan.
“Kami juga perlu terus mengevaluasi prioritas, memahami respons konsumen, dan menentukan langkah pengembangan berdasarkan kebutuhan bisnis,” ujar Khadi.
Ke depan, baik Khadi maupun Rafi ingin terus memperkuat identitas LEGHURA, meningkatkan kesadaran merek, dan memperbaiki kemampuan kanal penjualan dalam mengubah pengunjung menjadi pembeli. Mereka juga menilai soal perlunya mengembangkan pencatatan bisnis yang lebih terstruktur agar dapat memahami kinerja penjualan dan mengevaluasi efektivitas pemasaran secara lebih terukur.
Sebab, keduanya menyadari LEGHURA bukan hanya usaha untuk menjual parfum, melainkan juga proses belajar membangun dan mengelola bisnis dari awal. Penjualan 1.000 pcs menjadi salah satu pencapaian dalam perjalanan tersebut, tetapi masih ada banyak aspek yang perlu dikembangkan agar bisnis dapat tumbuh secara berkelanjutan.
“Perjalanan LEGHURA masih berlanjut. Kami ingin terus belajar memahami konsumen, memperbaiki strategi pemasaran, dan membangun merek yang memiliki identitas kuat. Melalui proses tersebut, kami berharap LEGHURA dapat berkembang bukan hanya dari sisi penjualan, tetapi juga dari sisi kualitas pengelolaan dan nilai yang diberikan kepada konsumennya,” kata Khadi diamini Rafi.










