HARNAS.CO.ID – Sebuah mesin pengaduk adonan kini menjadi andalan baru Usaha Kerupuk Merah Tiga Saudara di Payakumbuh, Sumatera Barat (Sumbar) menggantikan cara pengadukan manual yang selama ini membatasi kapasitas produksi.
Teknologi tepat guna itu dihadirkan oleh tim dosen Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh melalui program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) bertajuk “Penerapan Mesin Pengaduk Kerupuk Merah dan Digital Marketing dalam Pemberdayaan UMKM Kerupuk Merah di Kota Payakumbuh.”
Kerupuk merah selama ini dikenal sebagai salah satu kuliner khas Sumbar dengan permintaan pasar yang tinggi. Namun, di balik popularitasnya, sebagian besar pelaku usaha masih mengandalkan proses produksi manual. Akibatnya, kapasitas produksi terbatas, kebutuhan tenaga kerja membengkak, dan adonan yang dihasilkan sering kali kurang homogen sehingga berpotensi memengaruhi kualitas dan higienitas produk.
Menjawab persoalan itu, tim PKM memperkenalkan mesin pengaduk adonan hasil penelitian Dr. Sandra Melly, S.TP, M.Si dan Dr. Mimi Harni, S.TP, MP. Mesin ini mampu mempercepat proses pencampuran bahan baku, menghasilkan adonan yang lebih homogen, sekaligus meringankan beban kerja pelaku usaha. Dengan efisiensi waktu produksi meningkat, kapasitas produksi pun dapat digenjot tanpa mengorbankan konsistensi kualitas kerupuk yang dihasilkan.
Bukan Sekadar Bantuan Mesin
Tim yang diketuai Dr. Sandra Melly, S.TP, M.Si, dengan anggota Dr. Reni Ekawaty, S.Si, M.Si dan Ratna Agustia, SP, MP, serta melibatkan mahasiswa M. Fajri, Revo Hermalindo, dan Rahmad Dio, tidak berhenti pada transfer teknologi produksi. Pelaku usaha yang dipimpin Rahmad, pemilik Usaha Kerupuk Merah Tiga Saudara, juga mendapat pendampingan pemasaran digital dan manajemen usaha.
Pelatihan yang diberikan mencakup pentingnya membangun identitas usaha, membuat konten promosi yang menarik, hingga memanfaatkan platform digital seperti WhatsApp Business, TikTok Affiliate, dan Instagram sebagai sarana pemasaran. Peserta bahkan langsung praktik membuat materi promosi menggunakan smartphone, sehingga ke depannya pemasaran dapat dilakukan secara mandiri dan menjangkau konsumen yang kian banyak berbelanja secara online.
Selain pelatihan produksi dan pemasaran, tim dosen juga membekali peserta dengan edukasi cara pengoperasian maupun perawatan mesin agar dapat dimanfaatkan secara optimal, berkelanjutan, serta penyuluhan pengolahan limbah dan sanitasi lingkungan di sekitar pabrik.
Disambut Positif Pelaku Usaha
Rangkaian pendampingan itu disambut baik oleh pelaku UMKM karena dinilai menjawab langsung kendala yang selama ini dihadapi, baik dari sisi produksi maupun pemasaran. Dengan efisiensi produksi yang meningkat dan akses promosi digital lebih luas, pelaku usaha berharap pendapatan terus tumbuh dan pasar mereka dapat merambah ke luar wilayah Payakumbuh.
“Kegiatan ini merupakan bentuk nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam mendukung pemberdayaan UMKM berbasis inovasi dan teknologi,” kata Dr. Sandra Melly, S.TP, M.Si, selaku ketua tim PKM dalam keterangannya, Jumat (17/7/2026).
Ia menambahkan, perguruan tinggi memiliki peran penting sebagai mitra masyarakat dalam menghadirkan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi pelaku usaha, sehingga hasil penelitian serta inovasi dapat memberi manfaat langsung bagi masyarakat. Tim PKM turut menyampaikan terima kasih kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Kemendiktisaintek yang telah mendanai kegiatan tersebut.
Melalui sinergi antara perguruan tinggi dan pelaku UMKM, industri kerupuk merah di Kota Payakumbuh diharapkan mampu berkembang menjadi usaha yang lebih produktif, inovatif, dan berdaya saing tinggi.
Tim PKM juga berkomitmen melanjutkan pendampingan agar pelaku usaha dapat tumbuh secara berkelanjutan dan berkontribusi terhadap perekonomian daerah.










