HARNAS.CO.ID – Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi) dikabarkan akan turun gunung untuk berkeliling Indonesia mulai Juni 2026.
Menurut Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, langkah itu diduga bagian dari upaya Jokowi membesarkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
“Sesuai janji (Jokowi) saat Rakernas PSI di Makassar pada 31 Januari 2026, Jokowi berkomitmen bekerja serius untuk membesarkan PSI dengan berkeliling Indonesia,” kata Jamiluddin, Jumat (15/5/2026).
Dia menjelaskan, PSI yang ingin masuk Senayan alias lolos DPR RI pada Pemilihan Legislatif (Pileg) 2029, memang sangat membutuhkan Jokowi.
Sebab, Jamiluddin memandang, tidak ada kader PSI yang cukup mumpuni untuk menggaet massa berlabuh ke partai itu, termasuk sang Ketua Umum Kaesang Pangarep.
“Ketergantungan terhadap Jokowi semakin besar karena hingga saat ini elektabilitas PSI masih rendah. Hasil survei terakhir, elektabilitas PSI hanya 1,2 persen,” ujar mantan Dekan FIKOM IISIP Jakarta itu.
Elektabilitas PSI tersebut tentu masih dibawah perolehan suaranya pada Pileg 2024. Padahal, kata Jamiluddin melanjutkan, Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep, Ketua Harian Ahmad Ali, dan petinggi PSI sudah berkeliling Indonesia untuk konsolidasi. Bahkan, Kaesang dan Ahmad Ali sesumbar akan menjadikan Jawa Tengah dan Makassar jadi kandang partai berlogo gajah.
“Nyatanya petinggi PSI tak mampu mengerek elektabilitas partainya. Karena itu, PSI tampaknya tinggal berharap pada Jokowi agar mimpinya ke Senayan dapat terwujud,” kata Jamiluddin.
Meski begitu, dia menilai, PSI sangat spekulatif apabila berharap pada Jokowi. Sebab, masa keemasan mantan Wali Kota Solo itu dipandang sudah memudar.
Terlebih, Jamiluddin mengatakan, Jokowi bukan lagi sosok yang mampu menghipnotis anak bangsa untuk berpihak kepadanya.
“Jokowi saat ini adalah sosok kontroversial, termasuk terkait ijazahnya,” katanya.
“Kalau pun masih ada yang memujanya, itu hanya segelintir orang. Mereka ini tidak signifikan untuk membantu Jokowi membesarkan PSI,” ucap Jamiluddin menegaskan.
Karena itu, Jamiluddin menyebut, PSI akan menuai kekecewaan apabila berharap Jokowi mampu mendongkrak elektabilitas partai. Pasalnya, kehadiran Jokowi ke penjuru Tanah Air membawa panji-panji PSI bisa jadi akan menjadi bumerang pada partai gajah tersebut.
“Jadi, kehadiran Jokowi membawa panji-panji PSI tidak dengan sendirinya dapat mendongkrak elektabilitas PSI. Bahkan tak menutup kemungkinan semakin banyak anak bangsa yang antipati terhadap PSI,” ujar dia.
Jamiluddin menyarankan PSI mengkaji lagi plus minus langkah Jokowi berkeliling Indonesia membawa panji-panji PSI.
“Jangan sampai PSI kembali gagal ke Senayan hanya karena salah menilai keperkasaan Jokowi.
Pikir itu pelita hati. PSI kiranya paham dengan peribahasa tersebut,” kata Jamiluddin menegaskan.










