HARNAS.CO.ID – Sebanyak 17 orang dinyatakan tewas akibat banjir bandang yang menerjang Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara (Sulut), Senin (5/1/2026) dini hari. Hal ini diketahui dari pendataan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Kamis (8/1/2025).
“Berdasarkan update Kamis, jumlah korban jiwa meninggal dunia tercatat sebanyak 17 orang, termasuk satu korban anak yang ditemukan pada Rabu, (7/1/2025),” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari.
Dia menjelaskan, dari total jumlah korban meninggal tersebut, sebagian di antaranya telah teridentifikasi. Sementara, sembilan korban lainnya masih dalam proses pendataan dan identifikasi oleh petugas.
“Selain korban meninggal dunia, dilaporkan terdapat dua orang korban yang dinyatakan hilang dan hingga kini masih dalam proses pencarian oleh tim gabungan,” ujar Muhari.
Lebih lanjut, Muhari menerangkan, proses penanganan darurat masih terus dilakukan pada hari keempat pascabencana banjir bandang di kabupaten tersebut. Penanganan ini meliputi operasi pencarian dan penyelamatan korban, pendataan dampak, serta penyaluran bantuan logistik tetap menjadi prioritas utama di wilayah terdampak.
“Upaya pencarian terus dilakukan secara intensif dengan melibatkan unsur TNI, Polri, BPBD, relawan, serta masyarakat setempat,” ucap Muhari.
Sementara, terkait penanganan medis, tercatat 12 orang korban dirujuk ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan. Sedangkan, empat orang korban lainnya dirujuk ke fasilitas kesehatan di Manado guna memperoleh penanganan medis lanjutan sesuai kondisi masing-masing.
Menurut Muhari, bencana alam di Kabupaten Sitaro juga mengakibatkan warga harus mengungsi. Hingga saat ini, sekitar 691 kepala keluarga (KK) tercatat terdampak dan berada di lokasi pengungsian.
“Proses pendataan terhadap para pengungsi masih terus dilakukan untuk memastikan seluruh warga terdampak memperoleh bantuan dan layanan dasar yang diperlukan,” kata Muhari.
Dari sisi kerusakan, perkembangan sementara tercatat 30 unit rumah hilang. Kemudian, 52 unit rumah rusak berat, 29 unit rumah rusak sedang, dan 89 unit rumah rusak ringan. Selain itu, tiga unit fasilitas pendidikan terdampak, sejumlah bangunan kantor dan infrastruktur mengalami kerusakan, serta beberapa akses jalan masih terputus dan dalam pendataan lanjutan.
“BPBD Kabupaten Kepulauan Sitaro terus berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Sulawesi Utara, instansi terkait, serta pemerintah kecamatan dan kelurahan dalam rangka percepatan penanganan darurat. Bantuan darurat telah disalurkan ke wilayah terdampak untuk memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi,” ujar Muhari.
Pemerintah daerah setempat sudah menetapkan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi selama 14 hari, terhitung sejak 5 hingga 18 Januari 2026. Hal ini berdasarkan Keputusan Bupati Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro Nomor 1 Tahun 2026. Status ini memungkinkan optimalisasi sumber daya dan dukungan lintas sektor sesuai perkembangan situasi terkini.
BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi.
Masyarakat, kata Muhari menambahkan, diminta menjauhi wilayah rawan dan segera melakukan evakuasi mandiri apabila terjadi kondisi darurat.
“Sementara pemerintah daerah diharapkan memastikan kesiapsiagaan personel, sarana prasarana, serta pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak selama masa penanganan darurat.”










