HARNAS.CO.ID – Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) menolak kebijakan Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi yang mengatur siswa dan siswi sekolah di wilayah Jabar masuk sekolah pukul 06.00 pagi. Pasalnya, kebijakan itu dinilai kontraproduktif dengan tujuan membangun kualitas hidup dan tumbuh kembang anak.
“Berbagai riset atau kajian ilmiah menunjukkan dampak negatif kurang tidur adalah anak akan sulit berkonsentrasi, penurunan daya ingat, gangguan metabolisme tubuh, sarapan bisa terlewatkan, kelelahan, kecemasan, bahkan penurunan prestasi akademik,” kata Kepala Bidang Advokasi Guru P2G Iman Zanatul Haeri, Selasa (3/6/2025).
Iman menjelaskan, kebijakan masuk sekolah pukul enam pagi yang akan diterapkan di Jabar in juga di luar kelaziman internasional. Dia mencontohkan, Malaysia, Cina, Amerika Serikat rata-rata masuk sekolah sekitar pukul 7.30 pagi. Sedangkan India, Inggris, Rusia, Kanada, Korea Selatan masuk sekolah pukul 8.00 pagi. Kemudian, Singapura dan Jepang masuk pukul 8.30 pagi.
“Semuanya dengan skema belajar lima hari atau Senin – Jumat. Artinya negara-negara maju rata-rata masuk sekolah lebih siang,” ujar Iman
Bahkan, kata dia melanjutkan, dalam penelitian Kelley et al. (2017) dari The Open University, Brigham and Women’s Hospital, Harvard University, dan University of Nevada menyatakan, jam masuk sekolah pukul 10:00 lebih baik bagi kesehatan dan performa akademik siswa usia 13–16 tahun dibandingkan jam 8:30 pagi. Artinya, kegiatan belajar mengajar (KBM) yang dilaksanakan pada pukul enam pagi tidak memiliki dasar kajian.
“Oleh sebab itu kami berharap ada kajian terlebih dahulu untuk penerapan KBM pukul enam pagi.” ungkap Iman.
Menurut Iman, penerapan jam masuk sekolah lebih pagi banyak memunculkan kesulitan dalam implementasinya. Misalkan, akses ke sekolah yang jauh dari rumah siswa dan guru serta terkait ketidaktersediaan kendaraan umum pada jam berangkat sekolah.
Tak hanya itu, faktor risiko keamanan bagi siswa dalam keberangkatan juga perlu jadi pertimbangan karena kondisi jalan sepi atau langit masih gelap.
“Guru dan orang tua siswa juga merasa lebih terbebani karena harus menyiapkan sarapan dan bekal lebih awal. Bagi orang tua yang punya anak cukup banyak, lebih merepotkan lagi sebab harus membagi perhatian penyiapan lebih awal,” kata Iman.
“Guru dan Siswa yang rumahnya jauh harus bangun lebih pagi lagi. Malah sarapan pada jam sahur. Ini tentu saja sangat tidak berkeadilan,” ucap dia menambahkan.
Ekosistem Pembelajaran
Iman menyebut, tujuan Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menerapkan masuk sekolah jam 06.00 pagi agar anak tidak malas, bersemangat ke sekolah, dan gemar belajar dengan mempercepat jam masuk sekolah sebenarnya tidak langsung berkorelasi satu sama lain.
Sebaliknya, membangun kualitas pembelajaran sejatinya terletak dalam ekosistem pembelajaran di sekolah, pola asuh di rumah, bagaimana guru mampu membangun ruang belajar berkualitas, aman, nyaman, sehat, dialogis, konstruktif, dan berpusat pada peserta didik.
Akan percuma masuk terlalu pagi, tapi kualitas pembelajaran masih rendah,” ujar Iman.
Ia lantas mengingatkan, tantangan pendidikan di Jabar cukup berat. Anak tidak sekolah di Jabar mencapai 623.288 anak, sebanyak 164.631 di antaranya drop-out. Bahkan Jabar berada di urutan pertama nasional angka putus sekolah di jenjang SD (data Kemdikdasmen 2024).
“Masih banyak persoalan pendidikan yang harus diurus oleh KDM (Kang Dedi Mulyadi) di Jawa Barat. Misal, ada sekitar 22 ribu ruang kelas rusak berat dan 59 ribu kelas rusak sedang di Jawa Barat. Guru di Jqwa Barat yang sudah disertifikasi angkanya di bawah 40 persen. Artinya separuh guru di Jawa Barat dianggap belum profesional diatas kertas (data Neraca Pendidikan Daerah 2023)” kata Iman lagi.
Oleh karena itu, Iman menegaskan, P2G menilai kebijakan pendidikan yang diterapkan Gubernur Jabar Dedi Mulyado selama ini belum berdasarkan evidence based policy dan research based policy. Dengan begitu, rapuh secara konseptual dan rentan untuk berubah secara drastis karena tidak kuat.
Iman pun mengingatkan, dengan skema belajar lima hari sekolah ditambah masuk terlampau pagi dan pulang lebih sore, anak berpotensi melampiaskan kelelahan pada Sabtu dan Minggu melalui aktivitas yang negatif dan destruktif seperti tawuran, dan bentuk pelampiasan lainnya.
“Ini semua harus diantisipasi oleh semua pihak,” kata Iman.










