Harnas.CO.ID
  • Home
  • Politik
  • Kesra
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Global
  • Nusantara
  • Lifestyle
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Advertorial
No Result
View All Result
Harnas.CO.ID
No Result
View All Result
Home Kesra

Kebijakan Dedi Mulyadi soal Masuk Sekolah Jam 6 Pagi Ditolak, P2G: Bisa Menurunkan Prestasi Akademik Anak!

by Aria Triyudha
03/06/2025
Kebijakan Dedi Mulyadi soal Masuk Sekolah Jam 6 Pagi Ditolak, P2G: Bisa Menurunkan Prestasi Akademik Anak!

Ilustrasi siswa belajar di sekolah. (Foto: gurudikdas.dikdasmen.go.id)

Share on FacebookShare on TwitterWhatsapp

HARNAS.CO.ID – Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) menolak kebijakan Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi yang mengatur siswa dan siswi sekolah di wilayah Jabar masuk sekolah pukul 06.00 pagi. Pasalnya, kebijakan itu dinilai kontraproduktif dengan tujuan membangun kualitas hidup dan tumbuh kembang anak.

“Berbagai riset atau kajian ilmiah menunjukkan dampak negatif kurang tidur adalah anak akan sulit berkonsentrasi, penurunan daya ingat, gangguan metabolisme tubuh, sarapan bisa terlewatkan, kelelahan, kecemasan, bahkan penurunan prestasi akademik,” kata Kepala Bidang Advokasi Guru P2G Iman Zanatul Haeri, Selasa (3/6/2025).

Iman menjelaskan, kebijakan masuk sekolah pukul enam pagi yang akan diterapkan di Jabar in juga di luar kelaziman internasional. Dia mencontohkan, Malaysia, Cina, Amerika Serikat rata-rata masuk sekolah sekitar pukul 7.30 pagi. Sedangkan India, Inggris, Rusia, Kanada, Korea Selatan masuk sekolah pukul 8.00 pagi. Kemudian, Singapura dan Jepang masuk pukul 8.30 pagi.

“Semuanya dengan skema belajar lima hari atau Senin – Jumat. Artinya negara-negara maju rata-rata masuk sekolah lebih siang,” ujar Iman

Bahkan, kata dia melanjutkan, dalam penelitian Kelley et al. (2017) dari The Open University, Brigham and Women’s Hospital, Harvard University, dan University of Nevada menyatakan, jam masuk sekolah pukul 10:00 lebih baik bagi kesehatan dan performa akademik siswa usia 13–16 tahun dibandingkan jam 8:30 pagi. Artinya, kegiatan belajar mengajar (KBM) yang dilaksanakan pada pukul enam pagi tidak memiliki dasar kajian.

“Oleh sebab itu kami berharap ada kajian terlebih dahulu untuk penerapan KBM pukul enam pagi.” ungkap Iman.

Menurut Iman, penerapan jam masuk sekolah lebih pagi banyak memunculkan kesulitan dalam implementasinya. Misalkan, akses ke sekolah yang jauh dari rumah siswa dan guru serta terkait ketidaktersediaan kendaraan umum pada jam berangkat sekolah.

Tak hanya itu, faktor risiko keamanan bagi siswa dalam keberangkatan juga perlu jadi pertimbangan karena kondisi jalan sepi atau langit masih gelap.

“Guru dan orang tua siswa juga merasa lebih terbebani karena harus menyiapkan sarapan dan bekal lebih awal. Bagi orang tua yang punya anak cukup banyak, lebih merepotkan lagi sebab harus membagi perhatian penyiapan lebih awal,” kata Iman.

“Guru dan Siswa yang rumahnya jauh harus bangun lebih pagi lagi. Malah sarapan pada jam sahur. Ini tentu saja sangat tidak berkeadilan,” ucap dia menambahkan.

Ekosistem Pembelajaran

Iman menyebut, tujuan Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menerapkan masuk sekolah jam 06.00 pagi agar anak tidak malas, bersemangat ke sekolah, dan gemar belajar dengan mempercepat jam masuk sekolah sebenarnya tidak langsung berkorelasi satu sama lain.

Sebaliknya, membangun kualitas pembelajaran sejatinya terletak dalam ekosistem pembelajaran di sekolah, pola asuh di rumah, bagaimana guru mampu membangun ruang belajar berkualitas, aman, nyaman, sehat, dialogis, konstruktif, dan berpusat pada peserta didik.

Akan percuma masuk terlalu pagi, tapi kualitas pembelajaran masih rendah,” ujar Iman.

Ia lantas mengingatkan, tantangan pendidikan di Jabar cukup berat. Anak tidak sekolah di Jabar mencapai 623.288 anak, sebanyak 164.631 di antaranya drop-out. Bahkan Jabar berada di urutan pertama nasional angka putus sekolah di jenjang SD (data Kemdikdasmen 2024).

“Masih banyak persoalan pendidikan yang harus diurus oleh KDM (Kang Dedi Mulyadi) di Jawa Barat. Misal, ada sekitar 22 ribu ruang kelas rusak berat dan 59 ribu kelas rusak sedang di Jawa Barat. Guru di Jqwa Barat yang sudah disertifikasi angkanya di bawah 40 persen. Artinya separuh guru di Jawa Barat dianggap belum profesional diatas kertas (data Neraca Pendidikan Daerah 2023)” kata Iman lagi.

Oleh karena itu, Iman menegaskan, P2G menilai kebijakan pendidikan yang diterapkan Gubernur Jabar Dedi Mulyado selama ini belum berdasarkan evidence based policy dan research based policy. Dengan begitu, rapuh secara konseptual dan rentan untuk berubah secara drastis karena tidak kuat.

Iman pun mengingatkan, dengan skema belajar lima hari sekolah ditambah masuk terlampau pagi dan pulang lebih sore, anak berpotensi melampiaskan kelelahan pada Sabtu dan Minggu melalui aktivitas yang negatif dan destruktif seperti tawuran, dan bentuk pelampiasan lainnya.

“Ini semua harus diantisipasi oleh semua pihak,” kata Iman.

Previous Post

Orang Tua Disarankan Batasi Izin Aplikasi Perangkat Teknologi pada Anak

Next Post

Praktisi Hukum Noverizky Yakin Duet Martin Nagel – Harvardy Ciptakan Sejarah Baru Jika Pimpin AKPI

Related Posts

Hakim PN Kraksaan Diberhentikan Buntut Telantarkan Istri-Anak dan Pemalsuan Data
Hukum

Hakim PN Kraksaan Diberhentikan Buntut Telantarkan Istri-Anak dan Pemalsuan Data

Mensos Sebut Sekolah Rakyat Tingkatkan Kepercayaan Diri dan Motivasi Belajar Siswa
Kesra

Mensos Sebut Sekolah Rakyat Tingkatkan Kepercayaan Diri dan Motivasi Belajar Siswa

Prabowo vs Anies Berpeluang Terjadi di Pilpres 2029, Dedi Mulyadi Kuda Hitam
Politik

Prabowo vs Anies Berpeluang Terjadi di Pilpres 2029, Dedi Mulyadi Kuda Hitam

Mendagri Ultimatum Pemda segera Data Jembatan Rusak Menuju Sekolah
Nusantara

Mendagri Ultimatum Pemda segera Data Jembatan Rusak Menuju Sekolah

Leave Comment

Terkini

Penanganan Tuberkulosis Perlu Jadi Prioritas dalam RPJMD hingga APBD

Penanganan Tuberkulosis Perlu Jadi Prioritas dalam RPJMD hingga APBD

Kursi Gibran Tak Lagi di Sisi Prabowo, Pengamat: Hubungan Presiden dan Wapres Bisa Dipersepsikan Merenggang

Kursi Gibran Tak Lagi di Sisi Prabowo, Pengamat: Hubungan Presiden dan Wapres Bisa Dipersepsikan Merenggang

Dinamika Global Kian Kompleks, Menlu Sugiono Dorong ASEAN Perkuat Ketahanan Kawasan

Dinamika Global Kian Kompleks, Menlu Sugiono Dorong ASEAN Perkuat Ketahanan Kawasan

Advokat Tewas Diduga Jatuh dari Lantai 46 Apartemen Setiabudi, Polisi Beberkan Kronologi

Advokat Tewas Diduga Jatuh dari Lantai 46 Apartemen Setiabudi, Polisi Beberkan Kronologi

Praktik Dokter Ilegal Dua Warga Vietnam Terbongkar, Berujung Dideportasi Imigrasi Jaksel

Praktik Dokter Ilegal Dua Warga Vietnam Terbongkar, Berujung Dideportasi Imigrasi Jaksel

Terpopuler

  • Iwan Bomba Ditengarai Menjadi Pihak di Balik Kriminalisasi Istri Mendiang Ferry Mursyiddan

    Iwan Bomba Ditengarai Menjadi Pihak di Balik Kriminalisasi Istri Mendiang Ferry Mursyiddan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Diduga Cemari Nama Baik Bupati Biak Numfor, GPAI Laporkan LMHKN-Joe Lawalata ke Mabes Polri

    91 shares
    Share 36 Tweet 23
  • Sebagai Wujud Syukur, PT Metal Smeltindo Selaras Berbagi di Bulan Ramadhan 2023

    54 shares
    Share 22 Tweet 14
  • LSM Pemantau Kinerja Pemerintah Tolak Penetapan PT Anugerah Bangun Kencana

    47 shares
    Share 19 Tweet 12
  • Kejari Jaksel Tetapkan Tiga Tersangka Korupsi Kredit Fiktif di Bank BRI

    44 shares
    Share 18 Tweet 11
Harnas.CO.ID

Mengulas isu terkini.

About Us

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak Kita

Kategori

  • Politik
  • Kesra
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Global
  • Nusantara
  • Lifestyle
  • Olahraga
  • Teknologi

Contact Us

Hubungi redaksi melalui email di bawah ini : harnas.co.id@gmail.com
Alamat :
JL. Mampang Prapatan Raya NO. 26,
Kel. Mampang Prapatan, Kec. Mampang Prapatan,
Kota Adm. Jakarta Selatan
Provinsi DKI Jakarta
Kode Pos 12790

© 2022 Harnas.CO.ID.

No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Kesra
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Global
  • Nusantara
  • Lifestyle
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Advertorial

© 2022 Harnas.CO.ID.