HARNAS.CO.ID – Keketuaan Indonesia pada G20 tahun ini dinilai momentum memimpin kolaborasi antarnegara untuk menghadirkan solusi bagi beragam tantangan dunia yang semakin kompleks dan keras.
“Pada saat memegang mandat keketuaan G20, kita berpikir bagaimana membuat dunia ini cepat pulih dari resesi ekonomi karena adanya pandemi COVID-19,” kata Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Andi Widjajanto dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta, Rabu (12/10/2022).
Pada saat mandat itu dilaksanakan, ujar Andi melanjutkan, lalu ada eskalasi di dinamika geopolitik yang membuat tantangan dunia makin keras. Dengan demikian, keketuaan Indonesia dalam G20 pada tahun ini merupakan keketuaan yang paling menantang dan sibuk, sejauh keberadaan forum tersebut.
Sebagaimana yang disampaikan oleh Presiden RI Joko Widodo saat memberikan amanat dalam upacara peringatan HUT Ke-77 TNI pada 5 Oktober 2022 lalu, ada krisis di tiga sektor yang diprediksi melanda dunia pada 2023 mendatang. Tiga sektor itu adalah pangan, energi, dan finansial.
Oleh karena itu, Andi menilai Presidensi G20 2022 di Indonesia saat ini menjadi semakin menantang. Atas prediksi itu pula, Lemhannas kemudian merumuskan beberapa masukan untuk pemerintah, termasuk dalam memimpin G20, terkait langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi ancaman krisis tersebut.
Menteri Luar Negeri RI (Menlu) Retno Marsudi mengatakan, melalui keketuaannya di G20 pada tahun ini, Indonesia memang selalu mengedepankan paradigma kolaborasi, bukan kompetisi. Selain itu paradigma engagement (pelibatan), bukan containment (pembendungan).
“Pandemi mengajarkan pelajaran berharga bahwa no one is safe until everyone is (tidak ada satu orang pun yang aman sampai seluruh pihak aman),” ujar Retno.
Editor: Firli Yasya










