HARNAS.CO.ID – Langkah Presiden Prabowo Subianto mencopot Purbaya Yudhi Sadewa dari kursi Menteri Keuangan (Menkeu) menuai perhatian publik. Pasalnya, pendepakan Purbaya terbilang begitu mendadak.
Diketahui, pria berusia 62 tahun itu menerima kabar dicopot dari Menkeu saat masih mengikuti rapat dengar pendapat dengan Komite IV DPD RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (14/9/2026) siang.
Keputusan Presiden Prabowo Subianto melengserkan Purbaya dari posisi Menkeu dan menggantinya dengan Suahasil Nazara, menurut Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, diduga terkait dua hal.
“Pertama, kemungkinan karena adanya polemik setoran Danantara. Hal itu terlihat dengan adanya isu ketidakpuasan atau perbedaan pandangan mengenai kewajiban setoran dana senilai Rp120 triliun dari Danantara ke kas negara untuk mengatasi masalah fiskal,” kata Jamiluddin.
Dia menjelaskan, pemicu kedua ditengarai menyangkut evaluasi pengelolaan fiskal.
“Muncul dugaan evaluasi dari Presiden terhadap pengelolaan penerimaan negara di tengah dinamika stabilitas ekonomi nasional,” ujar Jamiluddin.
Ia menilai, dua hal itu bisa saja membuat Prabowo tak berkenan, bahkan marah. “Akibatnya, Prabowo terkesan melakukan reshuffle mendadak,” kata Jamiluddin.
Meski begitu, ujar dia lagi, terlepas dari persoalan tersebut, tuntutan reshuffle terhadap menteri bidang ekonomi memang mengemuka belakangan ini. Hasil survei menunjukkan ketidakpuasan publik tertinggi tertuju pada kinerja menteri bidang ekonomi, politik, dan penegakan hukum.
“Karena itu, publik memang sudah mengharapkan Prabowo reshuffle menterinya. Namun, sayangnya reshuffle hanya untuk Menteri Keuangan.
“Jadi, reshuffle yang dilakukan Prabowo tampaknya belum menyentuh substansi persoalan kabinetnya. Kesannya hanya tambal sulam,” kata Jamiluddin.










