HARNAS.CO.ID – Sebuah pameran batu permata digelar di Pasar Pagi Mangga Dua, Jakarta Utara. Event yang digagas Asosiasi Kecubung Amethyst Indonesia (AKAMI) ini berlangsung sejak Senin (3/8/2026) hingga Minggu (9/8/2026).
Kemeriahan mewarnai pameran yang diikuti oleh puluhan pedagang batu permata dan akik tersebut.
Pantauan Harnas.co.id di lokasi, Sabtu (8/8/2026), area pameran yang berada di lantai 4 blok BA Pasar Pagi Mangga Dua ramai didatangi pengunjung. Mereka datang silih berganti menelusuri dan mengitari etalase kaca setiap peserta pameran guna melihat dari dekat beragam batu permata dan akik yang dipamerkan.
Warna-warni dan kilau cahaya yang terpancar dari batu permata maupun akik kian menambah daya tarik pameran. Sebut saja untuk batu permata antara lain Rubi, Safir, Zamrud, dan Alexandrite Chrysoberyl. Sedangkan, untuk batu akik di antaranya Bacan, Garut, batu Gambar.
Alhasil, para pengunjung baik tua maupun muda seperti kalangan milenial dan Gen-Z penasaran sehingga tak segan bertanya mengenai jenis, model, dan harga batu permata maupun batu akik yang dipamerkan. Tak sedikit pula pengunjung yang membeli batu permata atau akik di pameran tersebut.

Ketua AKAMI Chaerullah mengatakan, penyelenggaraan pameran batu permata maupun akik memang selalu meriah. Tak terkecuali, kata dia, pameran batu permata yang sedang berlangsung di Pasar Pagi Mangga Dua.
“Ini event kedua yang kami gelar di tahun 2026, Alhamdulillah pengunjungnya banyak sejak hari pertama pameran. Hal ini menandakan peminat batu masih banyak,” kata Chaerullah saat ditemui di lokasi pameran.
Ia menjelaskan, keramaian pengunjung itu pun diikuti oleh transaksi jual beli. Mulai dari transaksi bernilai kecil hingga besar. Chaerulllah menyebut, hampir semua jenis batu permata laku terjual dalam pameran ini. Batu permata yang banyak diminati yaitu ‘Big Four’ batu permata yaitu Rubi, Safir, Zamrud, dan Alexandrite Chrysoberyl, meski nilainya cukup fantastis.
“Kemudian banyak orang juga mencari yang kelas menengah yakni menengah ke atas seperti Garnet, Tourmaline, dan Hessonite,” ungkap Chaerullah.

Secara keseluruhan, ucap dia, pameran diikuti oleh 45 pedagang. Sebanyak 70 persen di antaranya merupakan pedagang di Pasar Rawa Bening, Jakarta Timur. Seperti diketahui, pasar ini merupakan pusat perdagangan batu permata, akik, dan perhiasan terbesar serta terlengkap di Indonesia.
Sementara, lanjut Chaerullah, 30 persen peserta pameran lainnya merupakan pedagang online dan juga berasal dari berbagai daerah seperti Medan, Makassar, Banjarmasin, Karawang, dan Batam.
Pameran ini juga diwarnai kehadiran Gemolog atau ahli terlatih yang mengidentifikasi hingga menilai keaslian batu permata. Namun, ujar Chaerullah, berbeda dengan event sebelumnya, dalam event kali ini bukan pedagang dan pecinta batu bertanya kepada gemolog.
“Tapi gemolog yang bertanya agar pedagang lebih dahulu paham barang yang dijual,” katanya.
Chaerullah berharap, selain mengedukasi pedagang dan pencinta batu permata serta akik, pameran yang digelar AKAMI mampu menjaga ekosistem dunia perbatuan di Indonesia. Dengan begitu, turut berkontribusi mengurangi pengangguran.
“Kami mau stabil dan kalau (dunia perbatuan) ramai lagi minimal tingkat pengangguran berkurang karena ada yang bisa jadi tukang gosok, tukang ring, tukang chrome, tukang jualan batu, jadi kan ada penghasilan,” ujar dia memaparkan.
Kemudian, pameran batu permata yang digulirkan AKAMI juga bertujuan sebagai regenerasi guna menghadirkan sosok-sosok baru dari kalangan Gen-Z untuk berkecimpung di dunia perbatuan.
“Tak kalah penting, kalau semua berjalan lagi, kami akan kembalikan ke Pasar Rawa Bening. Sebab, pasar ini sentral (pusat perdagangan batu) paling utama di Indonesia. Kami promosikan Pasar Rawa Bening lewat gem fair atau kontes,” kata Chaerullah menambahkan.
Dampak Positif untuk Pasar Rawa Bening
Sementara, Kepala Pasar Rawa Bening Ahmad Subhan mengapresiasi langkah AKAMI menggelar pameran batu permata. Dia memandang, pameran tersebut berlangung sukses.
“Saya lihat antusiasnya ini bukan hanya dari pedagang Pasar Rawa Bening saja, tapi ada pedagang dari daerah. Pameran ini juga sebagai bagian dari terobosan baru,” ujar Subhan.
Lebih lanjut, kata dia, pameran yang digelar AKAMI bisa menginformasikan kepada masyarakat mengenai perbatuan di Indonesia.
“Jadi masyarakat pun yang sebelumnya tidak tahu, menjadi tahu soal batu-batu yang ada di Indonesia,” ucap Subhan menegaskan.
Pria yang pernah menjabat Kepala Pasar Santa Jakarta Selatan ini pun memastikan, pameran yang digelar AKAMI berdampak positif kepada Pasar Rawa Bening. Pasalnya, dengan banyaknya peserta pameran yang merupakan pedagang Pasar Rawa Bening, maka hal ini turut menggerakkan sarana pendukung lainnya yang berasal dari pasar tersebut.
Sebagai contoh, kata Subhan, salah satu peserta pameran yang juga pedagang Pasar Rawa Bening ingin mengetahui keaslian suatu batu.
“Maka dia harus menggunakan laboratorium dan laboratorium ini paling banyak di Pasar Rawa Bening. Jadi, terbantulah semua di Pasar Rawa Bening, pengrajinnya juga sangat terbantu dengan pameran ini,” ujar dia.
Subhan pun mengakui terbuka kemungkinan Pasar Rawa Bening turut menggelar pameran serupa melalui kolaborasi dengan instansi-instansi terkait.
“Sehingga kami bisa meramaikan lagi perbatuan Nusantara, bukan hanya ramai tapi peminatnya dan pembelinya semakin banyak,” kata Subhan.










