HARNAS.CO.ID – Pasar Rawa Bening, Jatinegara, Jakarta Timur (Jaktim) selama ini telah masyhur sebagai pusat batu mulia, akik, dan permata terbesar di Indonesia. Para pedagang di pasar ini tak hanya menjual ragam dari ketiga batu tersebut, tapi juga mengolah dan mengkreasikannya menjadi aksesori cincin, kalung, gelang hingga bros berhias mutiara.
Aktivitas tersebut antara lain mencuat dari sebuah kios Yunani Collection di lantai dasar Blok CCT 270-271, Pasar Rawa Bening, yang ditempati Nani Satini. Perempuan berusia 38 tahun ini dalam kesehariannya antara lain menjual produk kalung, gelang, bros berhias mutiara asli.
Nani pun menceritakan, dirinya bersama bersama sang suami, Hendra (39) sudah menekuni usaha itu sejak 2016 lalu.
“Bermula dari ikut orang pada tahun 2010, dan selanjutnya ketika sudah ada modal lalu saya dan suami memberanikan buka kios dan menjual kreasi gelang, kalung, dan bros berhias mutiara ini,” kata Nani ditemui awak media di Pasar Rawa Bening, Jatinegara, Jaktim, Selasa (11/8/2026).
Nani menjelaskan, ia dan suami terampil membuat kalung, gelang, dan bros dengan hiasan mutiara dan juga batu akik setelah mempelajarinya secara otodidak.
“Saya pelajari dan mempraktikannya selama lima tahun dan akhirnya buka kios sendiri,” ujar Nani.
Adapun terkait mutiara yang digunakan sebagai hiasan untuk dirangkai menjadi kalung, gelang, dan bros dipasok dari Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Nani mengaku, pasokan mutiara tak selalu diperoleh dengan cara membeli.
“Ada kalanya sistem barter, artinya kami tukar produk kalung, gelang, dan bros berhias mutiara yang sudah jadi dengan mutiara yang disediakan oleh pihak pemasok,” ujar Nani.
Wanita paruh baya ini menjamin mutiara yang dijadikan aksesoris seperti kalung hingga bros itu bukan imitasi. Dengan kata lain, Nani mengaku selalu menggunakan mutiara asli.
“Mutiara imitasi, catnya mudah terkelupas,” ujar Nani,” ucap Nani.
Ia lantas memberi bocoran cara lain untuk mengetahui mutiara asli atau bukan, bisa dilakukan dengan menggigit mutiara tersebut. Hal ini kerap dilakukan ibu-ibu yang ingin membeli aksesoriberhias mutiara di kios Nani.
Menurut ibu tiga anak itu, aksesori kalung, gelang, dan bros berhias mutiara yang dihasilkannya memang banyak diminati kalangan ibu-ibu.
“Harganya bervariasi, mulai dari Rp50 ribu, ratusan ribu rupiah, dan hingga paling mahal ada pula yang mencapai jutaan rupiah,” kata Nani semringah.
Variasi harga itu, ujar dia, juga tidak terlepas dari kualitas mutiara yang terdiri dari beberapa grade,
“Dari grade A, B, C dan standard,” ujarnya.
Meski begitu, Nani mengungkapkan, mayoritas aksesori yang dijual di kiosnya menggunakan mutiara dengan grade standard agar mudah dijual.
Sementara, untuk aksesori yang terbilang cukup mahal, Nani mengatakan, jenis kalung dengan lilitan mutiara berlapis.
Adapun terkait bros dengan hiasan mutiara, aksesori ini tak hanya sebagai pemanis di baju.
“Tapi juga bisa untuk hiasan tas, hijab, baju kebaya bisa, dan sepatu. Untuk dipakai Ibu-Ibu pejabat kondangan bisa juga, jadi tampak terlihat lebih cantik, manis dan elegan pakai kalung, gelang dan bros mutiara,” ujar Nani.
Sejauh ini, pembeli aksesori kalung, gelang, dan bros di kios Nani juga datang dari luar daerah, antara lain wilayah Kalimantan, Lombok, Jawa, Ambon, dan Papua.
“Kami juga mengandalkan penjualan melalui media sosial TikTok, tapi belum merambah ke e-commerce seperti Shopee,” ujar Nani.
Dia sempat mengenang ketika pandemi Covid-19 terjadi beberapa tahun lalu. Menurut Nani, penjualan aksesori berhias mutiara buatannya tetap berjalan. Kemudian, Nani juga berkenalan dengan istri pengusaha nasional Sandiaga Uno, Nur Asia Uno yang memberinya kesempatan menjual aksesori mutiara dan batu mulia seraya mengajarkan cara pembuatannya.
“Misal bros yang harganya Rp50 ribu per item dijual hingga 50 buah, tapi gratis saya ajarkan cara membuat kalung dan perhiasannya,” ungkap Nani.
Kini, Nani pun turut mengikuti perkembangan terkait transaksi jual beli aksesori di kiosnya. Pembeli yang datang tak hanya bisa membayar dengan uang tunai. Pasalnya, Nani telah menyediakan metode pembayaran melalui metode pembayaran digital QRIS.
“Saat ini pembayaran di kios saya sudah bisa melalui QRIS Bank BNI, agar memudahkan transaksi pembayaran bagi pembeli. Jadi tidak usah repot bawa uang banyak, bayar pakai QRIS, mudah dan lebih simple,” kata Nani semringah.
Ia pun bersyukur, hasil penjualan aksesori yang dilakoni bersama sang suami mampu menghasilkan “cuan” sehingga menjadi sumber penghasilan untuk membiayai kebutuhan keluarga. Termasuk, untuk membiayai pendidikan anak-anaknya dan keponakan yang berkuliah di salah satu perguruan tinggi swasta.









