HARNAS.CO.ID – Mendengar kata bemo, seketika benak kita akan teringat kepada angkutan umum roda tiga dengan tampilan unik nan lucu yang pernah meramaikan lalu lintas Ibu Kota Jakarta.
Ingatan semacam itu tak salah. Sebagai angkutan umum, bemo memang cukup meninggalkan kenangan tersendiri bagi warga Jakarta yang pernah menggunakan moda transportasi tersebut.
Bahkan, bemo menjadi inspirasi sebuah toko kopi di Pasar Rawamangun, Pulogadung, Jakarta Timur. Ya, bagi anda yang belum mengetahuinya, terdapat Toko Kopi Cap Bemo yang eksis sejak tahun 1965 dan kini menawarkan puluhan varian biji kopi Nusantara di pasar tersebut.
Pemilik Toko Kopi Cap Bemo, Edward Nurjadi (49), pun menceritakan mengapa bemo bisa menjadi bagian dari nama toko tersebut. Rupanya, hal itu bermula dari perjuangan paman Edward yang bernama Rahman Lahirin selaku pendiri toko.
“Tahun 1965, paman saya, Rahman lahirin sebenarnya dia awalnya sales mesin giling kopi. Tapi, seiring berjalannya waktu dia melihat peluang menjual kopi biji dan selanjutnya mulai ambil kopi biji dari beberapa pabrik mulai menjajakan dengan sepeda keliling,” kata Edward saat ditemui di Pasar Rawamangun, Rabu (27/8/2025).
Saat itu, kata Edward menuturkan, bemo sangat mudah dijumpai di Jakarta, tak terkecuali di wilayah Ramamangun. Terlebih, ada pangkalan bemo di kawasan itu.
“Masih banyak bemo ketimbang bajaj,” ujarnya.
Selain menitipkan ke warung, memberikan sample kopi gratis hingga menjajakan kepada warga maupun mereka yang tengah melintas, sang paman turut menawarkan kopi kepada sopir bemo di kawasan Rawamangun.
Edward menyebut kopi yang dijajakan sang paman kemudian terkenal di kalangan sopir bemo.
“Jadi akhirnya namanya Kopi Bemo,” ujar Edward.
Kemudian, sang paman mencari tempat untuk berjualan secara tetap. Ia kemudian bertemu dengan Salim yang saat itu mengepalai Pasar Rawamangun.
“Pak Salim menawarkan tempat untuk jualan di Pasar Rawamangun dengan harga yang cukup terjangkau. Akhirnya paman setuju berjualan di pasar dan punya toko sendiri,” ucap Edward mengenang.
Lebih lanjut, pria berkacamata itu mengisahkan, Toko Kopi Cap Bemo awalnya hanya menawarkan tiga varian biji kopi yaitu robusta Lampung, robusta Toraja, dan special mix yaitu campuran 80 persen robusta dan 20 persen arabika.
“Paman saya buka toko tahun 1965 dan tiga kopi itu yang jadi favorit. Waktu itu juga belum ada kopi sachet,” kata Edward.
Maka, paman kala itu bisa memperkerjakan hingga 10 karyawan lantaran ramainya pembeli. Mesin penggiling kopi yang ada di toko tersebut bisa beroperasi selama 12 jam.
“Mesin mulai dari jam 4 pagi sampai jam 4 sore tak berhenti untuk menggiling, jadi mungkin saat itu satu hari bisa ratusan kilo yang digiling karena memang kompetitor kopi sachet,” ujar Edward.
Dia mengakui, ada toko kopi lain yang sempat menjadi kompetitor toko sang paman. Namun, sejumlah toko kopi itu tak bertahan lama. Pada perjalanannya, hanya toko kopi milik paman Edward, Rahman Lahirin yang bertahan di Pasar Rawamangun.
Peralihan untuk Keberlanjutan
Setelah 46 tahun berdiri atau tepatnya tahun 2011, Edward meneruskan pengelolaan toko kopi sang paman. Sebab, sang paman sudah memasuki masa lanjut usia. Selain itu, menurut Edward, sang paman memang menginginkan dirinya melanjutkan usaha kopi tersebut.
Sejak itu, dia mulai melakukan sejumlah pembaruan, antara lain menambah lima varian kopi. Total, toko yang dikelolanya itu menawarkan 10 varian kopi.
Seiring waktu dan dinamika yang mencuat, pada awal 2025, Edward pun memutuskan merenovasi total terhadap toko yang menjadi tempat berjualan kopi di Pasar Rawamangun. Tujuannya antara lain menghadirkan suasana baru dengan tampilan kekinian sehingga tak lekang dimakan waktu.
“Toko yang tadinya ‘jadul’ masih campur antara toko kopi dan toko snack, karena kami juga ada toko snack (makanan ringan) sejak tahun 1980-an. Saya mau mengubah konsepnya jadi yang kopi khusus kopi dan yang snack khusus snack,” ucapnya.
Renovasi toko lantas diikuti penambahan varian kopi. Total, kata Edward, susah ada 30 jenis dengan variasi robusta, arabika, dan blend.
Ia mengakui, toko yang dikelolanya kian banyak diketahui dan didatangi pencinta kopi maupun masyarakat berbagai kalangan. Permintaan dari kafe dan hotel juga mengalir. Edward berharap juga bisa membuka sebuah kedai kopi sebagai bentuk pengembangan usaha.
“Jadi orang-orang yang mau ngopi bisa datang ke Pasar Rawamangun dengan suasana lebih santai dan tidak canggung, harganya juga lebih murah,” katanya.
Dengan begitu, ujar Edward menambahkan, para penikmat kopi akan berkumpul di Pasar Rawamangun dan melahirkan komunitas kopi.
Memacu untuk Berbenah
Sementara, Kepala Pasar Rawamangun Alvi Rahim mengapresiasi langkah Toko Cap Kopi Bemo melakukan pembaruan dengan mengubah tampilan toko menjadi kekinian. Sebab, langkah semacam ini juga mampu menarik minat pencinta kopi dan masyarakat umum untuk datang yang pada akhirnya berdampak positif kepada Pasar Rawamangun secara keseluruhan.
“Kalau tidak ada komunitas-komunitas tertentu maka untuk mengangkat pasar agak susah, jadi dengan adanya komunitas kopi, maka pasar juga terangkat, perekonomiannya, dari situ pedagang lain juga ikut terkerek dan terpacu ikut juga berbenah,” kata Alvi.
Dia mengakui, usaha toko kopi dengan berbagai jenis variasi memang menjadi cara yang bisa mengangkat dan menarik lebih banyak masyarakat datang ke Pasar Rawamangun. Hal ini menjadi bagian upaya mempromosikan wilayah Jakarta Timur.
“Memang Jakarta Timur itu luas tapi (ingin) ada juga tempat ngopi-ngopi di pasar tradisional. Sebelumnya, yang sudah ada di pasar itu di wilayah Jakarta maka kami akan buat juga dan mengembangkannya,” katanya.
Alvi menambahkan, pihaknya terbuka apabila ada individu maupun komunitas yang ingin membuka dan mengembangkan usaha selain kopi. Sebab, dengan begitu, suasana Pasar Rawamangun akan lebih berwarna dan memantik peningkatan perekonomian di lingkup Pasar Rawamangun.
“Misal ada yang mau bergerak di sektor kuliner, itu kan jika disandingkan dengan kopi akan bagus,” ujar Alvi menambahkan.










