HARNAS.CO.ID — Bulan suci Ramadan membawa keberkahan dan kegembiraan bagi seluruh umat Muslim di dunia. Di tengah tantangan politik dunia yang diambang peperangan umat Muslim diharapkan saling menjaga persatuan dan kerukunan hingga berlomba dalam kebaikan.
Masyarakat Indonesia yang kaya budaya dan khasnya masing-masing daerah punya gaya saat menjalankan Ramadan baik saat buka puasa maupun sahur. Hal itu bisa terlihat dalam pelbagai bentuk ekspresi silaturahmi.
Ada yang menarik diperlihatkan oleh keluarga besar Front Pemuda Muslim Maluku (FPMM) saat menjelang sahur pada Ramadan 1447 Hijriah.
Ketua FPMM Haji Umar Key Ohoitenan menggelar acara Dendang Sahur gaya Maluku di kompleks Binalindung, Pondok Gede, Kota Bekasi, Minggu (1/3/2026).
Sebagaimana kebiasaan membangunkan sesama umat Muslim menjelang sahur pada dini hari dengan berjalan keliling sambil membunyikan tifa dan rebana atau instrumen lain sambil mengucapkan “sahur-sahur”, hal seperti itu juga dilakukan keluarga besar FPMM.
Namun, yang membedakan kelompok sahur lain dengan FPMM adalah ekspresi dan bentuk “pawai” sahur tersebut. Berpakaian putih-putih, para peserta Dendang Sahur memulai aksi berjalan keliling kompleks dengan tarian-tarian kecil gaya orang Maluku.
Paduan suara anggota FPMM yang ditimpali suara tifa dan rebana serta instrumen bunyi lainnya membuat kelompok Dendang sahur ini semakin menarik. Para penari pria itu memperlihatkan gerakan tarian khas Arab dan Maluku yang saling bercampur.
Sepanjang jalan, atraksi Dendang Sahur FPMM ini menjadi pertunjukan budaya yang menarik ditonton.
Mendengarkan keramaian itu, warga Muslim di sekitarnya ikut bangun dan mempersiapkan diri untuk melaksanakan kewajiban berpuasa dengan doa dan santap sahur bersama dalam keluarga.
Warga muslim turut menikmati Dndang Sahur ala Maluku tersebut dengan hati penuh gembira.
Tiba di kompleks Masjid Ar-Romlah, mereka terus berdendang dengan gerakan tarian yang mengiringi lagu-lagu bernuansa Islam. Para penari pria dengan pakaian serba putih itu membentuk lingkaran sambil terus berdendang.
Ketua Umum DPP FPMM Umar Key aktif terlibat dalam tarian itu, dengan mengambil posisi sebagai seorang pemimpin di tengah lingkaran. Umar terus bernyanyi bersama penyanyi dan penari yang lain.
Sesekali Umar Key keluar dari lingkaran itu dan menuju ke arah ibu-ibu yang berkeliling dan ikut bernyanyi. Di situ, Umar menebarkan lembaran-lembaran uang Rp 50.000 kepada semua ibu dan bapak-bapak yang membentuk lingkaran lebih besar.
Ini suatu kebiasaan Umar. Dia selalu memberi. Suasana di kompleks itu jadi ramai, namun hikmat. Mereka terus berdendang sambil menari hingga acara selesai.
Kapolsubsektor Jatiwaringin Iptu Wawan Kiswanto yang hadir dalam kegiatan ini memberi apresiasi kepada Umar Key dan FPMM yang selalu berinisiatif membangun suasana silaturahmi di wilayah hukum Polsek Pondok Gede.
“Ini kegiatan untuk sahur, maka kita harus menjaga ketertiban. Jangan sampai masyarakat merasa terganggu. Semoga kegiatan ini lancar dan terlaksana. Saya melihat kegiatan malam ini bagus sekali. Selama ini, mungkin masyarakat mengira bahwa orang dari Indonesia bagian timur itu non-Muslim. Ternyata banyak orang timur itu yang penganut Islam,” katanya kepada awak media.
“Pemahaman ini tentu ikut membantu kita saling mendukung satu sama lain, di mana pada Bulan Ramadan ini kita sebagai sesama Muslim harus lebih banyak mendekatkan diri kepada Allah SWT dan berbuat baik kepada sesama Muslim. Kita saling mendukung untuk kegiatan sahur ini,” ujar Iptu Wawan menambahkan.
Sementara Ketua RW 11 Pondok Gede mengatakan, Umar Key adalah koordinator keamanan RW 11 dan sekaligus Ketua RT 08.
“Kami menyambut gembira acara ini yang sekaligus memperkenalkan budaya-budaya dari Indonesia bagian timur khususnya Maluku. Dulu, kita mengira bahwa orang Maluku itu beragama Kristen, tetapi ternyata banyak juga yang Muslim. Kita menyambut gembira, sekaligus menjadi ajang silaturahmi bagi saudara-saudara kita di Indonesia bagian timur, bahwasannya kita semua satu saudara dalam Republik Indonesia ini,” ujar sang Ketua RW.
Salah seorang warga juga menilai bahwa acara Dendang Sahur ala Maluku ini positif dan bagus. “Biasanya orang kampung sini ada yang ‘membangunkan’ warga muslim untuk sahur. Tapi, kali ini, malah anak-anak Maluku yang mengambil inisiatif lewat kegiatan Dendang Sahur ini,” kata warga tersebut.
“Saya lihat, memang sangat unik, dan sesuatu yang unik itu menurut saya malah tambah bagus. Sekarang masyarakat tahu bahwa warga Maluku di sini kebanyakan Muslim. Apalagi, FPMM itu luar biasa sekali karena membaur dengan masyarakat Islam di sini. Semoga masyarakat di Pondok Gede ini tambah maju,” ucap dia lagi.
Bangun sahur dalam Islam bukan sekadar makan sebelum fajar, melainkan sunnah yang penuh keberkahan (barakah). Sahur memberikan kekuatan fisik untuk berpuasa, bernilai pahala, dan mendatangkan shalawat dari Allah serta malaikat bagi pelakunya.
Waktu sahur adalah saat yang mustajab untuk beristighfar dan memohon ampunan kepada Allah SWT.





