HARNAS.CO.ID – Sebanyak 20 kelompok teater maupun seniman individu dari seluruh penjuru Indonesia akan tampil di atas panggung Festival Teater Indonesia (FTI) di empat kota, yaitu Medan, Palu, Mataram, dan Jakarta. Selain pertunjukan di atas panggung, pengunjung festival juga dapat mengikuti berbagai kegiatan, antara lain, bincang karya, diskusi, jelajah panggung, lokakarya, dan Teras FTI yang mewadahi berbagai komunitas setempat.
FTI hadir sebagai titik pertemuan lintas kota serta ruang berekspresi bagi ekosistem teater tanah air. Kegiatan ini merupakan kolaborasi Titimangsa dengan Penastri (Perkumpulan Nasional Teater Indonesia) serta didukung oleh Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan RI.
“Tahun ini perhelatan pertama FTI. Saya bersemangat dan berharap semua berjalan lancar, sesuai dengan apa yang dicita-citakan dan dirancang teman-teman Titimangsa dan Penastri,” kata Penggagas FTI Happy Salma dalam keterangannya, Kamis (27/11/2025).
Happy berharap kegiatan ini bukan hanya silaturahmi budaya dan kesusastraan, tetapi juga menjadi ruang untuk membuka diri, beradaptasi dengan satu sama lain dari seluruh Indonesia. Sebab setiap wilayah punya kebiasaan yang berbeda-beda.
“Meski kita punya latar belakang yang berbeda, usia yang berbeda, bahkan interes yang berbeda, panggung bisa menyatukan. Di Festival Teater Indonesia, kita akan mempererat tali persaudaraan, utamanya dalam ekosistem seni teater tanah air,” ujarnya.
Menurut Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Ahmad Mahendra, FTI sejak awal dirancang selaras dengan agenda besar Kementerian Kebudayaan, terutama penguatan ekosistem sastra dan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya.
“Selaras dengan program-program penguatan ekosistem sastra, FTI menjadi ruang penting untuk mendorong alih wahana karya sastra Indonesia ke panggung teater. FTI juga sejalan dengan tujuan MTN Seni Budaya, yaitu membuka ruang bagi lahirnya talenta-talenta baru untuk berkiprah di panggung nasional dan internasional,” kata Ahmad Mahendra.
Edisi tahun perdana, FTI mengangkat tema Sirkulasi Ilusi yang menyoroti pertemuan antara realitas dan representasi di tengah kehidupan kontemporer. Melalui tema tersebut, FTI berupaya memperluas sirkulasi gagasan, mempertemukan seniman lintas wilayah, serta memperkaya khazanah hubungan antara teks sastra dan panggung pertunjukan.
FTI akan menjadi ajang perayaan untuk seni teater dan pertemuan bagi para praktisi, pendukung, juga penonton teater.
Panggilan Terbuka telah dilaksanakan semenjak 25 Agustus-19 September 2025. Kegiatan ini berhasil menjaring 213 pendaftar dari 95 kabupaten/kota di 25 provinsi se-Indonesia.
Pengumuman kelompok/seniman terpilih disampaikan secara daring pada 30 September 2025. Mereka akan mementaskan naskah-naskah teater adaptasi dari karya sastra Indonesia.
Direktur Artistik FTI, yang juga menjabat Sekretaris Umum Penastri Sahlan Mujtaba menyebut, prinsip dasar tim kurator dalam memilih penampil FTI yakni, apa tawaran konseptual karya secara estetika maupun pilihan karya sastra yang diadaptasi.
Selain itu kesesuaian kontekstual antara gagasan dengan realitas di kota penyelenggara serta keadilan representasi. “Kami memastikan kesetaraan akses kewilayahan dan generasi. Keberagaman karya juga sangat penting, misalkan dalam gaya, medium, eksperimental, dan lainnya, sehingga penonton menyaksikan spektrum bentuk pertunjukan yang luas,” ujar Sahlan.
Berikut daftar penampil di setiap kota titik temu Festival Teater Indonesia:
Medan: Bali Eksperimental Teater (Jembrana, Bali), Luna Vidya/Storytelling Academy (Makassar, Sulawesi Selatan), Porman Wilson Manalu (Medan, Sumatera Utara), Stage Corner Community (Tangerang, Banten), dan Teater Kurusetra (Bandar Lampung, Lampung).
Palu: Insomnia Theater Movement (Lombok Barat, NTB), Komunitas Sakatoya (DI Yogyakarta), Lentera Silolangi (Palu, Sulawesi Tengah), Studiklub Teater Bandung (Bandung, Jawa Barat), dan Tilik Sarira Creative Process (Sukoharjo, Jawa Tengah).
Mataram: Dexara Hachika (Pontianak, Kalimantan Barat), Nara Teater (Flores Timur, NTT), Sanggar Budaya Kalimantan Selatan (Banjarmasin, Kalimantan Selatan), Teater Lho Indonesia (Mataram, NTB), dan Yeni Wahyuni (Padang Panjang, Sumatra Barat).
Jakarta: Andi Bahar Merdhu (Gowa, Sulawesi Selatan), Bengkel Seni Embun (Ambon, Maluku), Rumah Kreatif Suku Seni Riau (Pekanbaru, Riau), Serikat Teater Sapu Lidi/Ramdiana (Syiah Kuala, Banda Aceh), dan Teater Kubur (Jakarta Timur, DKI Jakarta).
20 kelompok teater terpilih itu mendapatkan pendanaan produksi serta pendampingan dari kurator festival. Pendampingan selama persiapan dilakukan untuk mengetahui sejauh mana proses teater dijalani, bagaimana strategi menyiasati keterbatasan waktu, anggaran, dan sumber daya manusia yang ada.
“Tugas kami para kurator adalah memastikan kesiapan seniman agar dapat mementaskan karya terbaiknya di panggung Festival Teater Indonesia. Memang ada tantangan selama pendampingan, tetapi setiap kurator telah terlebih dahulu mempelajari latar belakang dan kecenderungan praktik berkarya si seniman. Dengan demikian, pendekatan kurator jadi lebih humanis dan kekeluargaan. Intinya menjadi pendengar yang baik dan teman ngobrol yang asyik,” ungkap Tya Setyawati, Kurator Festival Teater Indonesia.
Pentas teater alih wahana karya sastra Indonesia di panggung FTI akan dilaksanakan di Auditorium RRI, Medan (1-3 Desember 2025), Gedung Kesenian Palu, Palu (6-8 Desember 2025), Taman Budaya NTB, Mataram (10-12 Desember 2025), dan Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta (14-16 Desember 2025).
“Persiapan panitia setiap kota sudah semakin lengkap dan matang. Masing-masing kota memang punya tantangan yang unik, misalnya terkait gedung pertunjukan yang beragam kondisinya, tapi kami dapat menyiasati setiap masalah dengan baik. Bekerja dengan banyak orang dari banyak kota, dengan kebiasaan dan budaya yang sedikit berbeda, menjadi tantangan sekaligus peluang untuk belajar dan saling memahami. Perbedaan yang ditemukan di setiap wilayah bukanlah hal yang perlu diseragamkan. Kami malah ingin menggarisbawahi apa yang khas dari wilayah tersebut. Hal yang diseragamkan hanya masalah administratif agar pekerjaan dan komunikasi lebih lancar saja,” tutur Pradetya Novitri, Direktur FTI.
Panitia FTI di empat kota juga menyiapkan berbagai program sayap, antara lain bincang karya, diskusi, jelajah panggung, lokakarya, pameran arsip, simposium, dan Teras FTI. Ragam program ini dirancang untuk membuka akses bagi masyarakat umum agar dapat melihat teater bukan hanya yang tampak di atas panggung, tetapi juga sebagai perjalanan kreatif yang melibatkan refleksi, dialog, dan pertukaran gagasan.
Seluruh rangkaian kegiatan Festival Teater Indonesia akan dicatat oleh penulis/pengamat di masing-masing kota. Hasil pencatatan atau program arsip ini akan diterbitkan menjadi buku digital untuk disebarluaskan nantinya.
Festival Teater Indonesia juga menjadi kesempatan untuk memberikan penghargaan kepada insan-insan seniman yang sudah berkontribusi besar bagi dunia seni pertunjukan. Penghargaan atas Pengabdian Seumur Hidup FTI (PSH FTI) akan diserahkan pada malam penutupan penyelenggaraan tiap kota.
Seniman penerima penghargaan tersebut merupakan tokoh-tokoh yang sudah dikenal melalui aktivitas seni dan kontribusinya di kota masing-masing.
Dalam proses pemilihan penerima penghargaan tersebut, jejaring komunitas teater lokal diminta untuk mengusulkan sejumlah nama tokoh yang memiliki peran dalam perkembangan teater di kota tersebut serta yang konsisten berkarya lebih dari 25 tahun. Setiap calon dikaji rekam jejak artistik, kontribusi sosial-budaya, dokumentasi karya, dampak jangka panjang, serta relasinya dengan komunitas teater lokal.
Para kurator FTI berharap terwujudnya pertemuan raya teater nasional yang benar-benar hidup—sebuah ruang di mana seniman, komunitas, dan publik dari berbagai kota dapat saling melihat, mendengar, dan belajar satu sama lain. Diharapkan juga FTI dapat memperkuat jejaring antar-komunitas teater, membuka kemungkinan kolaborasi baru, dan memunculkan percakapan lebih luas mengenai arah perkembangan teater Indonesia.
Festival Teater Indonesia akan terlaksana mulai 1-16 Desember 2025 di empat kota: Medan, Palu, Mataram, dan Jakarta. Informasi jadwal pertunjukan maupun program-program sayap dapat dilihat melalui media sosial Instagram @festivalteater.id dan laman festivalteater.id. Para penonton dan penikmat seni teater juga dapat memesan tiket setiap pertunjukan secara gratis melalui https://tiket.titimangsa.com/.
Festival Teater Indonesia juga didukung oleh JAKPRO, Taman Ismail Marzuki, Dewan Kesenian Jakarta, Pemerintahan Daerah Sumatera Utara, Dinas Budparekraf Sumatera Utara, Kolaborasi Sumur Berkah, dan Biznet.
Festival ini juga didukung oleh mitra media: Tempo.co, Cantika.com, UNFRMD, Akurat.co, Katadata.co.id, BTV, Beritasatu.com, Jakartaglobe.id, Kapanlagi.com, Fimela.com, Liputan6.com, Kiss FM Medan, Koran Tribun Medan, Radar Palu, Sulteng Raya, Harian Mercusuar, Radar Lombok, RRI Mataram, Fresh Radio, Tribun Lombok, Explore Lombok, EventLombok.id, Koran Lombok, Mataram Now, Radio Suara Kota, Wartaone.online, NTB Satu, Lombok Folk.






