HARNAS.CO.ID – Di tengah maraknya tren fashion digital dan produk massal, dua mahasiswi Psikologi BINUS University Kemanggisan, Felicia Azumi dan Johanna Sarah Lazuardy justru memilih jalur berbeda.
Dengan tangan, benang, dan kreativitas, mereka membangun “Crochet by Chii”, sebuah bisnis rajutan tangan (handmade crochet) yang memadukan nilai artistik, personalisasi, dan filosofi bisnis yang kuat.
Awal mula dari hobi, dukungan teman, hingga lahirnya brand “Crochet by Chii”. Segalanya berawal dari hobi sederhana Felicia. Ia gemar merajut untuk mengisi waktu luang di sela perkuliahan.
Namun, pujian dan dorongan teman-teman yang mengatakan produknya “terlalu lucu untuk tidak dijual” membuatnya berpikir ulang. “Awalnya hanya iseng, tapi lama-lama saya sadar ini punya potensi besar,” ungkap Felicia.
Ide itu makin matang setelah ia mengikuti kegiatan market validation di mata kuliah Entrepreneurship, di mana kelompoknya menjual produk crochet bouquet dengan nama “Tied Up Bouquet”. Dari pengalaman itu, Felicia menyadari besarnya peluang pasar bagi produk rajut — bukan hanya sebagai karya hobi, tetapi juga sebagai produk bernilai jual tinggi.
Pada November 2024, Felicia mulai menjual hasil rajutannya secara kecil-kecilan, sebelum akhirnya mendirikan brand resmi Crochet by Chii pada Januari 2025. Tak lama kemudian, Sarah bergabung sebagai Co-Founder untuk memperkuat manajemen bisnis dan memperluas strategi pemasaran.
Nama “Chii” sendiri diambil dari pen name jurnalistik Felicia, “Aici”, sebagai simbol perjalanan pribadi dan profesionalnya.
Filosofi dan Nilai yang Menggerakkan
Bagi Felicia, ketika hobi berubah menjadi bisnis, segalanya pun berubah.
“Kalau dulu rajut itu tempat saya bersantai, sekarang ini tanggung jawab. Saya harus lebih dewasa dan teliti, karena kesalahan kecil bisa berpengaruh pada reputasi brand,” tuturnya.
Sementara Sarah menegaskan nilai utama bisnis mereka adalah integritas dan kejujuran. “Bisnis bukan hanya tentang menjual produk, tapi membangun kepercayaan. Integritas itu pondasi,” katanya.
Nilai-nilai inilah yang menjadikan Crochet by Chii bukan sekadar brand fashion, tetapi juga representasi dari profesionalisme anak muda yang menyeimbangkan passion dan tanggung jawab.
Tahap Pendirian dari Riset Pasar hingga Produksi Handmade
Modal awal yang digunakan berasal dari uang pribadi, dan semua proses dilakukan secara mandiri. Felicia dan Sarah memulai dari market research untuk mengetahui tren produk crochet di Indonesia, mempelajari jenis benang, hingga membuat prototipe dan uji pasar (test market).
Setelah menemukan produk yang diminati — seperti boneka rajut, gantungan kunci, dan aksesori — mereka mulai membangun sistem custom order, di mana pelanggan dapat memilih bahan, warna, dan desain sesuai keinginan. Inovasi ini menjadikan setiap produk Crochet by Chii bersifat personal dan unik, berbeda dari produk massal yang seragam.
Tantangan utama datang dari sisi waktu dan produksi. Proses rajut membutuhkan ketelitian dan kesabaran, sementara mereka juga harus aktif mengelola media sosial dan promosi. Namun, berkat dukungan penuh dari keluarga, teman, dan mentor di BINUS Incubator, semua tantangan berhasil dilalui satu per satu.
Inovasi dan Keunikan Produk
Keistimewaan Crochet by Chii terletak pada penggunaan benang velvet dan chenille — bahan yang lembut dan bertekstur mewah, berbeda dengan benang biasa yang kaku. Selain itu, mereka juga memadukan elemen beads (manik-manik) untuk menciptakan kesan elegan dan personal.
Dari segi konsep, brand ini mengambil inspirasi dari gaya “coquette aesthetic” dan karakter animasi Jepang, yang sedang tren di kalangan remaja dan dewasa muda. Mereka bahkan telah berkolaborasi dengan digital artist dan cosplayer dalam pembuatan bundle merchandise untuk event bertema jejepangan.
Kini, Crochet by Chii memiliki tim beranggotakan lima orang, termasuk bagian produksi dan admin. Mereka aktif mengikuti booth di Entre Corner BINUS University serta event besar seperti Comic Frontier (Comifuro) untuk memperluas eksposur brand.
Strategi Pemasaran dan Komunitas
Pemasaran utama dilakukan melalui Instagram dan X (Twitter), dengan gaya komunikasi yang ramah, terbuka, dan menyenangkan. Target audiens mereka adalah perempuan remaja hingga dewasa muda yang menyukai aksesori lucu dan handmade.
Untuk menjaga loyalitas pelanggan, mereka selalu berkomunikasi langsung dengan pembeli, memberikan transparansi dalam proses pembuatan produk, serta menjaga standar kualitas tinggi dan detail rapi di setiap hasil rajutan.
Tantangan dan Pembelajaran
Kendala terbesar adalah keterbatasan sumber daya manusia di fase awal. Pesanan menumpuk sementara tim masih kecil. Solusi yang mereka ambil adalah merekrut teman-teman yang memiliki kemampuan merajut untuk bergabung. Kini, dengan tambahan tiga anggota baru, yakni Christi Stefani (admin), Fanya, dan Rachel (tim produksi) beban kerja menjadi lebih ringan dan efisien.
Dari proses ini, Felicia dan Sarah belajar bahwa kolaborasi dan komunikasi adalah kunci dalam mengembangkan bisnis yang berkelanjutan. “Ada hal-hal yang tidak bisa kita kerjakan sendiri. Kerja tim dan komunikasi yang baik membuat semuanya lebih ringan,” ujar Sarah.
Dampak dan Kontribusi
Melalui Crochet by Chii, kedua founder ini ingin mengubah persepsi masyarakat terhadap produk rajutan. Mereka membuktikan bahwa rajutan bukanlah produk kuno, tetapi karya seni yang relevan, estetik, dan ramah lingkungan.
Selain memberikan alternatif fashion yang biodegradable, mereka juga berkontribusi dalam melestarikan budaya merajut — seni tangan yang kini mulai jarang ditemukan di era digital.
Pencapaian dan Testimoni
Hingga kini, Crochet by Chii telah menerima banyak testimoni positif dari pelanggan atas kualitas, kerapian, dan perhatian detail dalam setiap produk. Meskipun masih muda, brand ini telah dikenal di kalangan pecinta crochet dan komunitas event kreatif sebagai contoh bisnis handmade lokal yang profesional dan terpercaya.
Visi ke Depan
Dalam waktu dekat, Felicia dan Sarah berencana meningkatkan eksposur brand di wilayah sekitar dan memperluas jangkauan ke pasar internasional melalui sistem worldwide shipping. Mereka juga berharap masyarakat Indonesia semakin menghargai karya handmade lokal. Pesan Felicia untuk mahasiswa lain yang ingin memulai bisnis sederhana namun bermakna.
“Rencanakan bisnis kalian sebaik-baiknya untuk jangka panjang. Jangan hanya mengejar keuntungan sesaat, dan jangan takut rugi untuk berbagi,” ujarnya.
Crochet by Chii bukan sekadar usaha kecil berbasis hobi. Ia adalah representasi nyata dari semangat mahasiswa BINUS yang kreatif, tangguh, dan berdaya saing global, yakni bukti bahwa dari sehelai benang pun, bisa lahir sebuah kisah sukses yang membanggakan.










