HARNAS.CO.ID — Pemerintah Iran mengumumkan 40 hari masa berkabung dan tujuh hari libur nasional menyusul wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei setelah serangan udara Amerika Serikat (AS) dan Israel, Sabtu (28/2/2026).
Saluran berita IRINN menayangkan foto-foto Khamenei dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an sebagai latar, disertai pita hitam di pojok kiri atas layar.
Penyiar membacakan pernyataan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) yang secara resmi mengonfirmasi kematian Khamenei dan menuding AA serta Israel sebagai pihak yang bertanggung jawab.
Dalam pernyataan itu, Khamenei disebut wafat sebagai “martir” yang akan menjadi awal dari “kebangkitan dalam perjuangan melawan para penindas.”
Media pemerintah Iran sebelumnya melaporkan bahwa putri Khamenei, menantunya, serta seorang cucunya turut tewas dalam serangan tersebut.
Kantor berita Fars yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), juga memberitakan bahwa salah satu menantu perempuan Khamenei tewas.
Di pihak militer, Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, Mohammad Pakpour, serta sekretaris Dewan Pertahanan Iran, Ali Shamkhani, tewas dalam serangan Amerika Serikat dan Israel di Iran, menurut laporan kantor berita resmi IRNA.
Sebelumnya, Israel mengumumkan daftar tujuh pejabat keamanan Iran yang mereka klaim telah tewas, termasuk Pakpour dan Shamkhani.
Mohammad Pakpour ditunjuk sebagai panglima IRGC setelah pendahulunya tewas dalam perang Iran–Israel selama 12 hari pada Juni 2025. Sebelum itu, ia memimpin Pasukan Darat IRGC.
Shamkhani, yang juga menjabat penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran, mengalami luka- luka dalam perang 12 hari tersebut.
Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya mengeklaim Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei telah tewas dalam operasi tempur besar-besaran, Sabtu (28/2/2026).
Dalam unggahan di Truth Social, Trump mengatakan, “Khamenei salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah tewas”.
Lebih lanjut ia menulis, “Ini bukan hanya keadilan bagi rakyat Iran, tetapi juga bagi semua warga Amerika yang hebat,” katanya.
“Ini adalah kesempatan terbesar bagi rakyat Iran untuk mengambil kembali negaranya,” ujar Trump menambahkan.









