HARNAS.CO.ID – Dewasa ini, tren masyarakat Tanah Air menikmati kopi di kedai maupun kafe terus bertumbuh. Alhasil, “tempat ngopi” itu hadir menghiasi banyak lokasi, mulai dari gang, tepi jalan, gedung bertingkat, mal, hingga pasar tradisional.
Salah satunya bisa dilihat dari kedai Kopi Bemo di Pasar Rawamangun, Pulogadung, Jakarta Timur. Kedai yang baru dibuka pada 7 Januari 2026 ini cukup ramai dikunjungi penikmat maupun pencinta kopi.
Namun, tak sekadar mengikuti tren, Kedai Kopi Bemo hadir dengan vibes (suasana) berbeda dan menu ramah di kantong. Mereka yang datang bisa menyeruput kopi dengan berbagai jenis dan variasi. Tersedia pula, sejumlah kudapan yang bisa dipesan untuk dinikmati bersama kopi hangat maupun dingin.
Sejatinya, kata pemilik Kedai Kopi Bemo, Edward Nurjadi (50), kedai ini memiliki vibes ngopi asyik dan memang menyasar penikmat dan pencinta kopi yang ingin meminum kopi berkualitas dengan harga terjangkau.
“Orang-orang yang mau ngopi dengan harga murah dengan biji kopi pilihan. Karena banyak sekali yang jual murah tapi rasanya asal-asalan, kalau kami tidak begitu, sajian kopi diolah oleh barista dan dijamin biji kopi berkualitas,” kata Edward saat ditemui, Selasa (20/1/2026).
Dia menjelaskan, sajian menu terjangkau antara lain bisa dilihat dari harga kopi jenis Espresso yang ditawarkan mulai Rp8 ribu.
Dengan begitu, penikmat maupun pencinta kopi serta warga umumnya tak segan datang ke kedai Kopi Bemo. Termasuk bagi pengunjung yang tengah berbelanja di Pasar Rawamangun dan ingin menghilangkan dahaga di kedai itu.
“Kami tidak mau bersaing dengan kafe lain, karena di sekitar sini banyak sekali kafe, kopi tiam, pangsa pasar mereka juga middle up,” ujar Edward.
Lebih lanjut, menurut Edward, pendirian kedai kopi itu sendiri tak terlepas dari sejarah panjang usaha Kopi Cap Bemo dan keberadaannya di Pasar Rawamangun.
Awalnya, ia mengungkapkan, usaha Kopi Cap Bemo didirikan oleh orang tua serta pamannya pada tahun 1965 di sekitar Pasar Rawamangun. Nama bemo diambil lantaran saat itu terdapat pangkalan bemo di depan pasar tersebut.
“Ayah saya tinggal di Jalan Paus, berjarak 500 meter dari Pasar Rawamangun,” katanya.
Terlebih, ujar Edward, saat memulai usaha, sang ayah membagikan secara gratis kopi kepada pengemudi bemo. Usaha tersebut lalu berjalan dan berkembang. Edward mengungkapkan, setelah beberapa waktu berjalan, ayahnya ditawari oleh kepala Pasar Rawamangun untuk membuka toko kopi di pasar tersebut.
“Kemudian mulai tahun 1980-an selain kopi, ayah saya juga berjualan makanan ringan di tokonya,” ujar Edward.
Meski begitu, dia mengakui, usaha toko kopi itu tak selalu mulus. Selain harus menghadapi kompetitor, mencuat pula komentar yang membandingkan harga dengan toko kopi lainnya.
“Tapi, kami konsisten dengan rasa dan berikan harga terbaik,” ucap Edward.
Hingga pada tahun 2011, Edward secara langsung meneruskan pengelolaan usaha toko kopi tersebut.
“Saya ini generasi kedua, pelanggan kami sudah sampai generasi ketiga, jadi dari kakeknya, turun ke anak, ke cucu masih belanja kopi dari kami,” katanya semringah.
Edward menyebut, Toko Kopi Cap Bemo yang sejak awal berdiri berada di lantai satu Pasar Ramawangun kini menjajakan 50 varian kopi. Adapun, Kedai Kopi Bemo dengan 20 varian kopi terdapat di lantai dasar pasar itu.
“Karena itu, langkah saya membuka kedai kopi juga sekaligus ingin menghidupkan kembali Pasar Rawamangun, yang tadinya sepi lalu hidup kembali. Supaya orang-orang yang datang tidak hanya minum kopi tapi juga belanja kebutuhan di pasar ini,” ucap Edward menambahkan.
Pria yang mengikuti pelatihan barista pada 2019 ini bersyukur, animo masyarakat untuk menikmati kopi di kedai miliknya cukup tinggi. Bahkan, Edward tak menyangka, mereka yang datang memang bertujuan untuk mengonsumsi kopi.
“Saya kira hanya kalangan yang datang ke pasar mau belanja, ternyata enggak. Ada orang-orang yang belum pernah ke Pasar Rawamangun dan khusus datang hanya untuk minum kopi,” ujar dia menegaskan.
Terkait apakah usaha kedai ini akan dibuka di lokasi lain, Edward mengaku belum memikirkan langkah itu. Sejauh ini, dia masih fokus mengelola kedai kopi di Pasar Rawamangun agar mampu menjangkau konsumen lebih luas.
“Sampai benar-benar settle (stabil) dan bisa diterima masyarakat, tak hanya di Rawamangun, tapi juga masyarakat di sekelilingnya seperti Kelapa Gading, Duren Sawit atau Klender,” katanya.
Sementara, Kepala Pasar Rawamangun Alvi Rahim meyakini, kehadiran Kedai Kopi Bemo menjadi napas baru yang menghidupkan kembali gairah Pasar Rawamangun.
“Sekaligus menjadi pemantik optimisme bagi para pedagang yang sempat lesu dalam beberapa tahun terakhir,” kata Alvi.
Ia menekankan, hal tersebut membuktikan pasar tradisional telah bertransformasi. Artinya, tidak sekadar sebagai tempat transaksi komoditas pangan, tetapi juga sebagai destinasi kuliner dan ruang edukasi cita rasa kopi Nusantara.
“Pada akhirnya mempertegas posisinya sebagai ikon baru kebanggaan masyarakat,” ujar Alvi.









