HARNAS.CO.ID – Prospek bisnis batu permata dan akik di Indonesia diyakini tetap cerah untuk saat ini dan masa mendatang. Keyakinan itu antara lain berpijak dari eksistensi batu permata dan akik yang tak hanya bisa dijadikan hobi.
“Bagus ke depannya, karena ini bisa dibilang sebagai hobi dan untuk investasi,” kata Ketua Asosiasi Kecubung Amethyst Indonesia (AKAMI) Chaerullah kepada wartawan saat Festival Batu Permata dan Akik Nusantara di Harco Glodok, Jakarta Barat, Sabtu (7/2/2026).
Dia menjelaskan, guna mendukung terciptanya prospek cerah bisnis batu permata dan akik, maka ekosistemya pun harus dijaga. Artinya, ekosistem yang ada sepatutnya bergerak sesuai bidang masing-masing.
“Jangan ‘melompat’. Misalkan yang jadi tukang gosok ya gosok, cutting ya cutting, yang jual ring, yang supplier, jangan semuanya dijadikan satu, diraup semua,” ujar Chaerullah.
Menurut Chaerullah, apabila pola itu diterabas, maka alur bisnis batu permata dan akik akan berantakan.
“Sebagai contoh, yang dari daerah biasa memasok ke Jakarta, pedagang Jakarta belanja untuk dijual eceran, jangan mereka (pemasok luar Jakarta) turun langsung ke Jakarta dengan jual harga supplier. Itu akhirnya ngerusak pasar,” ujar dia.
Chaerullah menyebut, kondisi itu pernah terjadi saat bisnis batu akik meroket pada periode 2015 lalu. Ia menyebut, pihak-pihak yang seharusnya tetap berada di daerah itu ikut turun langsung ke Pasar Rawa Bening, Jatinegara, Jakarta Timur.
Pasar Rawa Bening sendiri merupakan pusat penjualan batu akik terbesar di Tanah Air. Imbasnya, alur bisnis batu akik di pasar ini menjadi berantakan. “Ekosistemnya hancur-hancuran,” ujar Chaerullah.
Atas dasar itu, kata dia menegaskan, semua pihak yang berperan dalam bisnis batu permata dan akik dari hulu sampai hilir harus tetap berada di sektor-nya masing-masing.
“Jadi saling berbagi, yang bagian cutting ya cutting, yang bagian menggosok ya menggosok, atau yang supplier boleh memasok ke pedagang. Jangan harga supplier dikasih ke customer langsung. Akhirnya pedagang satuan rusak,” ujar Chaerullah.
Upaya Mengedukasi
Lebih jauh, menurut pria yang sudah malang melintang dunia batu permata dan akik ini, upaya menjaga ekosistem usaha perbatuan tersebut sejalan dengan langkah AKAMI menggelar Festival Batu Permata dan Akik Nusantara di Harco Glodok, Jakarta Barat. Festival yang berlangsung sejak Senin (2/2/2026) hingga Sabtu (7/2/2026) dan menuai antusiasme pencinta batu mulia itu bertujuan membangkitkan lagi tren batu akik maupun permata di Tanah Air.
“Dengan catatan, naik dengan sisi positif. Dalam arti kan kemarin sempat naik terus agak sedikit drop, walaupun kembali stabil,” kata Chaerullah.
Sebab, ia mengakui, adanya oknum-oknum penjual batu menggunakan memo atau sertifikat palsu menyangkut kualitas batu mulia baik permata maupun akik.
“Oknum, kami sebut oknum pedagang ini—contohnya menggunakan memo palsu, atau memo asli (tapi) batunya bukan pasangannya, kan ada,” ujar Chaerullah.
Untuk itu, selain pameran dengan belasan booth yang memamerkan berbagai batu permata dan akik, festival antara lain juga diisi dengan talkshow menghadirkan Gemolog dari berbagai laboratorium gemologi di Jakarta dan wilayah lain.
Dalam rangkaian talkshow, Gemolog yang dihadirkan sebagai pembicara yaitu Abdul Aziz dan Adam Harits serta Pembina AKAMI Agustono Dwi Rahadi.
“Itu yang kami undang itu Gemolog dari laboratorium-laboratorium yang berlisensi dan terpercaya di Indonesia, yang kredibilitasnya bisa dipercaya,” katanya.
Dengan begitu, Gemolog atau ahli yang mampu mengidentifikasi hingga memberikan nilai terhadap batu mulia antara lain meliputi permata dan akik bisa memberikan edukasi.
“Supaya nanti laboratorium-laboratorium itu bisa dijadikan sebagai media pemeriksaan. Sebagai contoh, misalkan batu dengan kualitas tinggi dan terkenal yang nilainya mahal tiba-tiba ada harganya murah Rp500.000, tidak mungkin seperti itu, ada baiknya dicek ke lab, benar atau tidak itu batunya,” ucap Chaerullah.
Mengembalikan Pamor
Sementara, Kepala Pasar Rawa Bening, Jakarta Timur, Ahmad Subhan mengapresiasi langkah AKAMI menggelar Festival Batu Permata dan Akik Nusantara tersebut. Dia memandang, event ini menjadi salah satu penggerak untuk mengembalikan pamor batu akik dan permata ke tengah masyarakat.
“Jadi mungkin orang yang tadinya melupakan batu akik dan permata, dengan adanya kegiatan ini akan kembali teringat masa-masa yang memang batu akik itu identik dengan macam-macam daerah di Indonesia,” kata Subhan.
Sebagai contoh, ujar Subhan, batu Pandan dari Jakarta dan sejumlah batu asal Garut di antaranya batu Garut Edong.
“Ada juga ada Kalimaya (Banten), ada Wulung, dan batu Anggur yang dari Pacitan,” ujar dia.
Subhan menambahkan, peminat batu mulia saat ini juga datang dari Generasi Z (Gen Z). Generasi ini tampak kerap mengunjungi Pasar Rawa Bening.
“Gen Z menyukai aksesori-aksesoris dari batu. Karena itu, Gen Z ini belanja batu akik dan permata memang di Pasar Rawa Bening itu. Bahkan, turis-turis juga masih menyukai batu asli Indonesia,” kata Subhan.










