HARNAS.CO.ID – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Jabar) dalam mengimplementasikan teknologi smart mobility. Langkah ini ditandai melalui uji coba pemanfaatan I-SEATER, kendaraan otonom untuk satu penumpang di lingkungan Gedung Sate, Kantor Pemerintah Provinsi Jabar.
Inovasi hasil riset dari Pusat Riset Mekatronika Cerdas BRIN itu bertujuan mendukung mobilitas pengunjung lanjut usia (lansia) dan penyandang disabilitas, khususnya di area pelayanan publik Bale Pananggeuhan.
Melalui uji coba tersebut, kesiapan teknologi dievaluasi agar dapat dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat. Uji coba akan berlangsung selama sekitar satu bulan, dengan pendampingan teknis dari tim BRIN.
Kepala Pusat Riset Mekatronika Cerdas BRIN, Yanuandri Putrasari menjelaskan, pemilihan Gedung Sate sebagai lokasi implementasi didasarkan pada sejumlah pertimbangan. Salah satunya terkait peran Gedung Sate sebagai pusat aktivitas pemerintahan sekaligus ruang pelayanan publik yang banyak dikunjungi masyarakat.
“BRIN tidak ingin hanya sebatas menguasai teknologi, tetapi teknologi tersebut tidak memberikan manfaat. Karena itu, kami berusaha menghubungi mitra agar hasil riset dapat diimplementasikan dan dirasakan langsung oleh masyarakat,” kata Yanuandri dikutip laman BRIN, Jumat (23/10/2026).
Yanuandri menjelaskan, salah satu tantangan dalam pengembangan hasil riset adalah menemukan mitra yang bersedia menggunakan atau mengembangkan teknologi tersebut. Seiring uji coba di lingkungan Pemerintah Provinsi Jabar, BRIN berharap I-SEATER dapat menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus membuka peluang kerja sama dengan mitra lain untuk pengembangan lebih lanjut.
Guna mendukung pemanfaatannya di lingkungan pelayanan publik, I-SEATER dilengkapi teknologi yang memungkinkan kendaraan beroperasi secara mandiri.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Mekatronika Cerdas BRIN Roni Permana Saputra menerangkan, I-SEATER memiliki fitur navigasi otonom yang memungkinkan kendaraan bergerak tanpa harus dikendalikan secara manual oleh pengguna maupun operator.
Pengelola Bale Pananggeuhan dapat melakukan pemesanan untuk penjemputan dan pengantaran pengunjung ke lokasi yang ditentukan.
“Dalam uji coba ini, kami memastikan fitur keselamatan berfungsi dengan baik, serta operator dapat menggunakan kendaraan secara lancar dan aman. Selama masa pengujian, tim BRIN akan terus memantau operasional dan memberikan dukungan teknis apabila diperlukan perbaikan atau penambahan fitur,” ujar Roni.
Adapun dari sisi pengguna, kehadiran I-SEATER diharapkan dapat memberikan kemudahan akses bagi masyarakat yang membutuhkan layanan publik.
Kepala Bagian Tata Usaha Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Barat, Winny Citra Dewi Utami, menyambut baik kolaborasi tersebut.
Menurut dia, I-SEATER berpotensi meningkatkan aksesibilitas layanan di Bale Pananggeuhan, yang melayani pengaduan masyarakat terkait bantuan hukum, pendidikan, dan kesehatan.
“Kolaborasi ini sangat bermanfaat bagi kami di Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Tujuan kita sama, yaitu menghadirkan pelayanan publik yang lebih baik. Kami berharap kerja sama ini tidak hanya di atas kertas, tetapi benar-benar berjalan memberikan manfaat, dan dapat dipertanggungjawabkan bersama,” kata Winny.
Manfaat I-SEATER juga berkaitan kebutuhan mobilitas pengunjung di kawasan Gedung Sate. Koordinator Pelayanan Sekretariat Daerah Provinsi Jabar Iman Firmansyah menjelaskan, keberadaan kendaraan otonom tersebut dapat membantu pengunjung dengan keterbatasan mobilitas, terutama sejak kendaraan tidak lagi diperbolehkan masuk ke kawasan Gedung Sate.
I-SEATER diharapkan dapat mempermudah perjalanan pengunjung dari gerbang menuju Bale Pananggeuhan maupun lokasi layanan lainnya, termasuk klinik apabila diperlukan.
Senada, Ketua Tim Pelayanan Sekretariat Daerah Provinsi Jabar Wiwin Widayanti, menilai kehadiran kendaraan otonom itu mempermudah pelayanan bagi masyarakat yang datang untuk menyampaikan pengaduan, khususnya bagi lansia dan penyandang disabilitas.
BRIN dan Pemerintah Provinsi Jabar berharap pemanfaatan I-SEATER dapat menjadi langkah konkret dalam pengembangan mobilitas cerdas yang inklusif. Kolaborasi tersebut juga diharapkan memperkuat pemanfaatan hasil riset dalam pelayanan publik serta membuka peluang pengembangan.










